Siapa yang tidak bangga bila memiliki jabatan Manager ?
Banyak orang yang berjuang,berambisi untuk memiliki jabatan manager ini. Walau
untuk memilikinya di butuhkan perjuangan yang panjang dan berliku-liku.Bagi
sebagian kalangan, Jabatan manager
adalah jabatan yang keren dan perlente. Karena dengan jabatan manager,
seseorang akan memiliki anak buah dan
berhak melakukan aksi “komando” yang harus di patuhi dan dilakukan oleh para
anak buahnya.
Menjadi seorang manager tentu diperlukan sebuah kualifikasi
khusus. Yang menjadi syarat utama adalah memiliki jiwa kepemimpinan. Seorang
manager yang baik, diharapkan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Oleh karena
itu, berbagai tes assessment yang di pergunakan untuk menyeleksi para manager,
menempatkan ketrampilan memimpin/leadership sebagai nilai terbesar yang harus diraih oleh para
calon manager.
Tugas utama Manager adalah memimpin sebuah tim, membuat
keputusan yang strategis dan melakukan penyelesaian atas sebuah permasalahan.
Inilah tiga hal utama yang menjadi tugas utama seorang manager. Walau hanya
tiga tugas utama, tapi ketiga hal ini bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya
dalam sebuah perusahaan, seorang manager biasanya diberikan tunjangan khusus.
Pendapatannya diatas rata-rata pendapatan pekerja lain. Mungkin ini yang
dirasakan sebagaian orang sebagai
nikmatnya menjadi seorang manager.
Padahal sejujurnya, menurut saya menjadi manager itu tidak
enak. Mengapa tidak enak ? Karena bagi saya menjadi manager itu adalah sebuah
“jabatan tanggung” . Menjadi tanggung karena posisi nya ada di tengah-tengah.
Dibawah General Manager dan Direktur, namun diatas para pelaksana dan
supervisor. Nah karena posisi nya di tengah ini yang terkadang terasa sangat
menyiksa dan menyebalkan. Kata pak Dahlan Iskan (Meneg BUMN) ibaratnya “kena
petir dari langit, kena bara dari bawah”.
Setiap saat bisa kena makian para direktur, namun setiap saat juga harus siap menghadapi bawahan yang mendemo
kita. Dalam membuat keputusan juga demikian. Sedikit saja kita condong ke atas,
maka harus siap untuk mendapat hujatan dari bawah. Sebaliknya, jika terlalu
condong kebawah, siap siap saja untuk di semprot dan dimaki-maki oleh para
atasan.
Kalau sudah begitu keadaannya, maka untuk menjadi seorang
manager bukan hanya diperlukan kepandaian. Tetapi juga pribadi yang tegar,teguh
dan berani mengambil sikap. Pribadi yang memiliki prinsip dan keberanian untuk
mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuatnya. Tentu saja dengan
kesiapan untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi, di puji atau dipecat
sekalipun. Dengan gambaran seperti itulah, bagi saya menjadi seorang manager
tidak selamanya enak dan nyaman. Namun
terkadang juga terasa menyiksa.
Sadar atau tidak, menjadi anggota majelis jemaat sebenarnya
adalah menjadi manager jemaat. Posisinya persis di tengah-tengah. Diantara Tuhan
dan Jemaat. Sebagai manager jemaat (khususnya di GKJW) kita juga dituntut cakap dalam merancang
kebijakan-kebijakan yang menyangkut kehidupan berjemaat. Lalu menuangkan segala
rancangan kebijakan itu didalam Program Kerja Tahunan (PKT) . Beberapa diantara
anggota majelis jemaat itu juga harus mengadakan rapat rutin mingguan, yang
kita sebut sebagai Rapat PHMJ (Pelayan Harian Majelis Jemaat). Didalam rapat
itu dibahas berbagai macam hal. Ada pembahasan keuangan jemaat, pembahasan
program kegiatan, sampai pada pembahasan tentang problematika kehidupan warga
jemaat. Rapat itu begitu serunya, sampai-sampai tak terasa waktu bergulir
begitu cepat. Tak terasa pula bahwa malam semakin larut, bahkan hampir
menjelang dinihari.
Lalu apakah semua keputusan yang diambil para manager jemaat
itu selalu memuaskan ? Walaupun pembahasan sudah sampai larut malam, namun
harus jujur diakui bahwa tidak semua keputusan yang terambil mampu memuaskan
semua pihak. Kalo keputusan kita mementingkan aspek Theologis (BACA : cenderung
keatas / Tuhan) biasanya aka nada kekecewaan di kalangan jemaat. Tapi kalo
keputusan itu sedikit mengurangi aspek Theologis, biasanya para manager itu sendiri yang ragu.
Jangan-jangan nanti mengecewakan Yang Diatas / Tuhan. Kalo mengecewakan Tuhan,
akh…takut akh.
Semua kenyataan itu terkadang membuat para manager jemaat
merasa dilema. Sering merasa maju kena mundur kena. Celakanya yang paling
sering dihadapi adalah sindiran dan kritik dari bawah / jemaat terkait kinerja pelayanan. Padahal
para manager itu sudah merasa melakukan yang terbaik dan mempertimbangkan
segala kepentingan. Beberapa orang
mananger menghadapinya dengan menangis dan keluh kesah. Namun ada juga yang
menghadapinya dengan santai dan sedikit cuek. Yang lebih lucu lagi ada yang
menghadapinya dengan bebal dan mengatakan, “ Dulu, siapa suruh pilih saya ?”
Bagi saya, kesimpulannya adalah : menjadi manager jemaat
maupun manager perusahaan adalah sama. Yakni sama sama dibutuhkan pribadi yang
tegar,teguh dan berani mengambil sikap. Ketiga sikap pribadi itu akan makin
sempurna bila dilengkapi sikap ke-4 yakni “Memiliki Ketulusan”. Siapa yang
tidak bangga bila didalam sebuah kehidupan berjemaat, memiliki profil/pribadi
manager yang Tegar,Teguh,Berani dan Tulus ? Yakni Manager yang bersikap :
1. Tegar
ketika kehidupan berjemaat sedang dilanda keprihatinan. Figurnya berada di
depan ketika jemaat sedang mengalami pergumuluan. Menunjukan ketegaran dan
kerelaan berkorban bagi jemaat.
2. Teguh
dan tak kenal lelah didalam memperjuangkan cita-cita kehidupan berjemaat. Selalu yakin dan optimis dalam melakukan
segala kegiatan berjemaat.
3. Berani berdiri di depan untuk memimpin dan mengarahkan jemaat. Termasuk berani mengambil resiko demi kebaikan
jemaat. Walaupun resikonya adalah harus terbentur konflik dengan sesama pelayan
yang belum se visi.
4. Tulus
melakukan segala sesuatunya tanpa mencari popularitas pribadi. Semua hanya demi
kemuliaan Tuhan. Semua demi kemahsyuran Tuhan saja.
Semua sikap diatas sebenarnya meneladani kepemimpinan
Kristus yang melayani. Kristus begitu
tegar ketika harus diperhadapkan pada pengkhianatan Yudas Iskariot. Tak pernah
ada rasa amarah atas pengkhianatan itu. Kristus begitu teguh mengemban amanat
Agung untuk menyelamatkan manusia. Walau untuk itu diperlukan pengorbanan yang
luar biasa. Kristus begitu berani, ketika harus menghadapi penghakiman kayu
salib atas kesalahan yang sebenarnya tidak Dia lakukan. Dan, Kristus begitu
tulus menerima cambuk, hujatan bahkan teriakan yang mengolok-olok Dia sebagai
“Raja orang yahudi” yang tidak pernah bisa menyelamatkan diriNya sendiri. Semua
Dia lakukan karena posisiNya di tengah-tengah antara manusia dan Tuhan.
Bagi saya, itulah profile manager yang ideal. Dan bila
sekarang kepada kita diberikan kesempatan untuk menjadi manager. Semoga kita
juga di mampukan untuk menjadi seorang manager yang ideal. Yang memiliki ke
empat gaya tersebut diatas. Semua bukan
demi pujian dan penghormatan atas apa yang telah kita lakukan. Namun semua
karena kita ingin memuliakan Tuhan yang telah memberikan begitu banyak
kemurahan didalam kehidupan kita