Manusia hidup bukan dari air dan roti saja, tapi juga dari setiap firman Tuhan. Renungan ringan ini dibuat agar kita makin bisa menghayati dan menikmati perjalanan kehidupan serta tetap berjalan teguh dalam kasih setiaNya.
Mata dunia tertuju pada Vatikan, awal bulan maret 2013 yang
lalu. Ketika vatikan mengadakan sidang Konklaf yang dihadiri lebih dari 100
kardinal sedunia untuk memilih paus yang baru. Ketika asap putih keluar dari
cerobong asap. Jutaan umat katolik sedunia bersorak-sorai. Seorang Paus baru
telah terpilih. Kardinal Jorge Bergoglio, yang berasal dari Argentina terpilih
menjadi Paus yang baru menggantikan Paus Benedidiktus XVI. Setelah terpilih,
dia memilih gelar Paus Fransiskus. Publik banyak mengenal dia sebagai pribadi
yang rendah hati dan peduli pada kaum papa.
Menarik bagi saya ketika media menulis bagaimana salah satu
wujud kerendahatian Paus Fransikus. Ketika konklaf selesai, dia nekad pergi
keluar untuk membayar tagihan hotel tempat dia menginap. Dan itu dilakukannya
dengan menggunakan bus sebagai sarana transportasi masal di vatikan. Sikap
sederhananya tidak tercipta sesaat ketika dia terpilih sebagai Paus yang baru.
Namun itu sudah terjadi dalam masa pelayanannya sebagai cardinal di Argentina.
Dia deikenal sebagai Kardinal penegah konflik social ataupun politik di
argentina. Hidupnya didedikasikan untuk kaum miskin dan menderita. Dia bukan
hanya mau memberikan bantuan, kotbah kepada kamu miskin dan menderita. Tetapi
dia juga mau diam dan tinggal di tengah-tengah mereka. Makan bersama mereka,
dengan makanan yang mereka makan.
Sosok yang begitu mulia ini muncul ketika dunia ini
merindukan kepemimpinan yang tanpa basa basi. Sebuah kepemimpinan yang
melayani. Pemimpin berhati hamba. Semua orang tahu, tipikal pemimpin yang
seperti ini sudah semakin langka, kalau tidak boleh dikatakan lenyap. Banyak
pemimpin sekarang yang terbelenggu pada birokrasi jabatan. Menjaga citra diri
secara berlebihan, demi langgengnya kekuasaan yang dimilikinya.
Moment paskah ini sebenarnya adalah moment yang tepat untuk
melakukan introspeksi diri. Terutama bagi
siapa saja yang merasa dirinyan adalah seorang pemimpin. Keteladanan Kristus
didalam membasuh kaki murid-muridNYA. Memikul salib dengan tubuh manusiaNYA.
Menerima segala cercaan dan hinaan adalah sebuah teladan sejati tentang
KERENDAHAN HATI. Kita semua tahu bahwa perkara seperti itu tidaklah mudah untuk
dilakukan di era modern seperti sekarang ini. Terlalu berat SALIB yang harus di
pikul para pemimpin di zaman modern ini. Apalagi jika harus memilkulnya dengan
menggunakan pakaian kebesaran (jas/full dress dan kebaya). Bisa bisa lebih
mahal harga jas dan kebaya nya daripada harga salib yang harus di pikul.
Banyak pemimpin sekarang yang terlihat baik dan peduli dengan
memberikan bantuan,dukungan bagi kaum yang miskin dan menderita. Namun menolak
jika harus duduk berdampingan dengan si miskin dan menderita sekaligus makan
bersama mereka. Inilah realita yang terjadi di dunia ini.
Paus Fransiskus adalah contoh yang ideal bagi kita di era
modern ini. Bagaimana kepemimpinan di jalankan dengan rendah hati dan
ketulusan. Mungkin terlalu jauh jika harus meneladani Yesus yang telah sempurna melakukan
keteladanan kerendahatian. Jangankan meneladaninya, mencoba melakukan apa yang
DIA perbuat saja, belum tentu kita mampu. Tak perlu berkecil hati melihat itu
semua. Karena itu berarti, saya dan anda semua adalah manusia biasa. Hanya
marilah kita terus berupaya mengingat-ingat segala contoh keteladanan Tuhan
Yesus kepada umat manusia. Lalu mari dengarkan suara hati kita. Jika DIA mau
melakukannya, mengapa kita tidak ?
Siapa yang tidak bangga bila memiliki jabatan Manager ?
Banyak orang yang berjuang,berambisi untuk memiliki jabatan manager ini. Walau
untuk memilikinya di butuhkan perjuangan yang panjang dan berliku-liku.Bagi
sebagian kalangan, Jabatan manager
adalah jabatan yang keren dan perlente. Karena dengan jabatan manager,
seseorang akanmemiliki anak buah dan
berhak melakukan aksi “komando” yang harus di patuhi dan dilakukan oleh para
anak buahnya.
Menjadi seorang manager tentu diperlukan sebuah kualifikasi
khusus. Yang menjadi syarat utama adalah memiliki jiwa kepemimpinan. Seorang
manager yang baik, diharapkan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Oleh karena
itu, berbagai tes assessment yang di pergunakan untuk menyeleksi para manager,
menempatkan ketrampilan memimpin/leadership sebagai nilai terbesar yang harus diraih oleh para
calon manager.
Tugas utama Manager adalah memimpin sebuah tim, membuat
keputusan yang strategis dan melakukan penyelesaian atas sebuah permasalahan.
Inilah tiga hal utama yang menjadi tugas utama seorang manager. Walau hanya
tiga tugas utama, tapi ketiga hal ini bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya
dalam sebuah perusahaan, seorang manager biasanya diberikan tunjangan khusus.
Pendapatannya diatas rata-rata pendapatan pekerja lain. Mungkin ini yang
dirasakan sebagaian orang sebagainikmatnya menjadi seorang manager.
Padahal sejujurnya, menurut saya menjadi manager itu tidak
enak. Mengapa tidak enak ? Karena bagi saya menjadi manager itu adalah sebuah
“jabatan tanggung” . Menjadi tanggung karena posisi nya ada di tengah-tengah.
Dibawah General Manager dan Direktur, namun diatas para pelaksana dan
supervisor. Nah karena posisi nya di tengah ini yang terkadangterasa sangatmenyiksa dan menyebalkan. Kata pak Dahlan Iskan (Meneg BUMN) ibaratnya “kena
petir dari langit, kena bara dari bawah”.Setiap saat bisa kena makian para direktur, namun setiap saat jugaharus siap menghadapi bawahan yang mendemo
kita. Dalam membuat keputusan juga demikian. Sedikit saja kita condong ke atas,
maka harus siap untuk mendapat hujatan dari bawah. Sebaliknya, jika terlalu
condong kebawah, siap siap saja untuk di semprot dan dimaki-maki oleh para
atasan.
Kalau sudah begitu keadaannya, maka untuk menjadi seorang
manager bukan hanya diperlukan kepandaian. Tetapi juga pribadi yang tegar,teguh
dan berani mengambil sikap. Pribadi yang memiliki prinsip dan keberanian untuk
mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuatnya. Tentu saja dengan
kesiapan untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi, di puji atau dipecat
sekalipun. Dengan gambaran seperti itulah, bagi saya menjadi seorang manager
tidak selamanya enak dan nyaman. Namun
terkadang juga terasa menyiksa.
Sadar atau tidak, menjadi anggota majelis jemaat sebenarnya
adalah menjadi manager jemaat. Posisinya persis di tengah-tengah. Diantara Tuhan
dan Jemaat. Sebagai manager jemaat (khususnya di GKJW) kita juga dituntut cakap dalam merancang
kebijakan-kebijakan yang menyangkut kehidupan berjemaat. Lalu menuangkan segala
rancangan kebijakan itu didalam Program Kerja Tahunan (PKT) . Beberapa diantara
anggota majelis jemaat itu juga harus mengadakan rapat rutin mingguan, yang
kita sebut sebagai Rapat PHMJ (Pelayan Harian Majelis Jemaat). Didalam rapat
itu dibahas berbagai macam hal. Ada pembahasan keuangan jemaat, pembahasan
program kegiatan, sampai pada pembahasan tentang problematika kehidupan warga
jemaat. Rapat itu begitu serunya, sampai-sampai tak terasa waktu bergulir
begitu cepat. Tak terasa pula bahwa malam semakin larut, bahkan hampir
menjelang dinihari.
Lalu apakah semua keputusan yang diambil para manager jemaat
itu selalu memuaskan ? Walaupun pembahasan sudah sampai larut malam, namun
harus jujur diakui bahwa tidak semua keputusan yang terambil mampu memuaskan
semua pihak. Kalo keputusan kita mementingkan aspek Theologis (BACA : cenderung
keatas / Tuhan) biasanya aka nada kekecewaan di kalangan jemaat. Tapi kalo
keputusan itu sedikit mengurangi aspek Theologis, biasanya para manager itu sendiri yang ragu.
Jangan-jangan nanti mengecewakan Yang Diatas / Tuhan. Kalo mengecewakan Tuhan,
akh…takut akh.
Semua kenyataan itu terkadang membuat para manager jemaat
merasa dilema. Sering merasa maju kena mundur kena. Celakanya yang paling
sering dihadapi adalah sindiran dan kritik dari bawah/ jemaat terkait kinerja pelayanan. Padahal
para manager itu sudah merasa melakukan yang terbaik dan mempertimbangkan
segalakepentingan. Beberapa orang
mananger menghadapinya dengan menangis dan keluh kesah. Namun ada juga yang
menghadapinya dengan santai dan sedikit cuek. Yang lebih lucu lagi ada yang
menghadapinya dengan bebal dan mengatakan, “ Dulu, siapa suruh pilih saya ?”
Bagi saya, kesimpulannya adalah : menjadi manager jemaat
maupun manager perusahaan adalah sama. Yakni sama sama dibutuhkan pribadi yang
tegar,teguh dan berani mengambil sikap. Ketiga sikap pribadi itu akan makin
sempurna bila dilengkapi sikap ke-4 yakni “Memiliki Ketulusan”. Siapa yang
tidak bangga bila didalam sebuah kehidupan berjemaat, memiliki profil/pribadi
manager yang Tegar,Teguh,Berani dan Tulus ? Yakni Manageryang bersikap :
1.Tegar
ketika kehidupan berjemaat sedang dilanda keprihatinan. Figurnya berada di
depan ketika jemaat sedang mengalami pergumuluan. Menunjukan ketegaran dan
kerelaan berkorban bagi jemaat.
2.Teguh
dan tak kenal lelah didalam memperjuangkan cita-cita kehidupan berjemaat. Selalu yakin dan optimis dalam melakukan
segala kegiatan berjemaat.
3.Berani berdiri di depan untukmemimpin dan mengarahkan jemaat. Termasuk berani mengambil resiko demi kebaikan
jemaat. Walaupun resikonya adalah harus terbentur konflik dengan sesama pelayan
yang belum se visi.
4.Tulus
melakukan segala sesuatunya tanpa mencari popularitas pribadi. Semua hanya demi
kemuliaan Tuhan. Semua demi kemahsyuran Tuhan saja.
Semua sikap diatas sebenarnya meneladani kepemimpinan
Kristus yang melayani.Kristus begitu
tegar ketika harus diperhadapkan pada pengkhianatan Yudas Iskariot. Tak pernah
ada rasa amarah atas pengkhianatan itu. Kristus begitu teguh mengemban amanat
Agung untuk menyelamatkan manusia. Walau untuk itu diperlukan pengorbanan yang
luar biasa. Kristus begitu berani, ketika harus menghadapi penghakiman kayu
salib atas kesalahan yang sebenarnya tidak Dia lakukan. Dan, Kristus begitu
tulus menerima cambuk, hujatan bahkan teriakan yang mengolok-olok Dia sebagai
“Raja orang yahudi” yang tidak pernah bisa menyelamatkan diriNya sendiri. Semua
Dia lakukan karena posisiNya di tengah-tengah antara manusia dan Tuhan.
Bagi saya, itulah profile manager yang ideal. Dan bila
sekarang kepada kita diberikan kesempatan untuk menjadi manager. Semoga kita
juga di mampukan untuk menjadi seorang manager yang ideal. Yang memiliki ke
empat gaya tersebut diatas.Semua bukan
demi pujian dan penghormatan atas apa yang telah kita lakukan. Namun semua
karena kita ingin memuliakan Tuhan yang telah memberikan begitu banyak
kemurahan didalam kehidupan kita
Masa mudanya liar. Jarang di rumah dan berkelana di jalanan
bagaikan anak jalanan. Hidupnya sebagai anggota
geng motor, menjadikannya memiliki banyak teman. Rally motor, kirab motor gede
menjadi bagian dari hidup nya di masa muda. Saya melihat itu semua didalam
album masa muda Bapak saya. Semua album foto hitam putih yang kini sudah mulai berjamur itu menjadi saksi,
betapa gaul masa muda bapak saya.
Terlahir sebagai anak sulung di sebuah dusun kecil, bernama
dempelan madiun pada 74 tahun silam. Ayahnya (yang sekaligus juga kakek saya)
adalah seorang mandor PERHUTANI bernama Tukiman. Sebagai sulung dari 8
bersaudara kehidupan keluarga bapak sebenarnya cukup mapan. Terbukti dengan rumah Kakek yang berada tepat di tengah kota
madiun. Namun rupanya Kakek saya saat itu adalah seorang yang demokratis.
Sehingga memberikan kebebasan setiap anak-anaknya didalam berjuang menjalani
kehidupan.
Dimasa mudanya, ayah saya jatuh cinta terhadap seorang gadis
bali berambut panjang. Pertemuan itu
terjadi di kota semarang, tepatnya di asrama bidan RS Panti Wilasa. Pertemuan
itu terjadi dengan latar belakang yang unik. Dimana masing-masing pihak baru
saja mengalami putus cinta dengan pacar masing-masing. Cinta akhirnya
mempersatukan mereka. Dan pada akhirnya bapak saya, SOEHARTO menikah dengan Ni
MADE RAWI (yang sudah pasti pada akhirnya menjadi ibu saya) didalam sebuah upacara
pemberkatan Nikah di GKPB Bali 10 Februari 1974. Di saat itu pula, Bapak
menerima Sakramen Baptis Suci sebagai tanda meterai keselamatan oleh karya
Kristus.
Kedua pasangan pengantin baru ini benar-benar bonek. Setelah
menikah, berbekal pakaian dalam koper mereka meninggalkan Bali menuju Surabaya.
Saya tak pernah tahu alasannya mengapa mereka memilih Surabaya. Yang pasti kehidupan
mereka tidak mudah. Saya terlahir di sebuah RSB Nias Surabaya dan kemudia di
besarkan didalam sepetak kamar kontrakan di jalan manyar Surabaya. Situasinya benar-benar sulit saat itu. Bapak
mencari nafkah sebagai pemborong bangunan. Sementara ibu saya menjadi tenaga
medis di RSB Pura Raharja Surabaya. Pendapatan kedua orang tua saya hanya cukup
untuk bayar kontrakan kamar dan makan sehari-hari. Yang luar biasa mereka juga
masih di titipi adik-adiknya yang mencoba merantau ke Surabaya, mengadu nasib.
Jangankan membelikan saya baju baru. Membeli sepasang kaos kaki saja, sulitnya
bukan main. Maka ketika kaos kaki saya jatuh ke sumur saat di cuci. Ibu saya
menangis histeris karena kehilangan sebuah kaos kaki.
Perjuangan bapak cukup berat. Setelah tidak ada order
sebagai pemborong bangunan. Beliau mencoba berbisnis jual beli mobil dan jual
beli rumah. Istilah keren beliau saat itu, kerja sebagai “pengacara” alias
pengangguran tapi banyak acara. Kegiatannya cukup padat, sehingga kadang-kadang
menjemput saya pulang sekolahpun terlambat. Dan sayapun menangis, walau hanya
gara-gara terlambat di jemput oleh bapak. Kalau sudah begitu, Bapak pasti
marah. Sepeda motor vespa dilarikan kencang, dan saya diturunkan di areal pemakaman
manyar. Sudah pasti tangis saya makin kencang saat itu.
Kehidupan perekonomian kami mulai membaik ketika ibu saya
bekerja rangkap sebagai assisten dokter spesialis anak. Bapak saya dengan setia
mengantar jemput ibu saat berangkat dan pulang kerja. Dari keringat beliau,
kami bisa membeli sebuah mobil Daihatsu “ceketer” yang saat itu harganya Rp
1.750.000,-. Bapak segera mulai belajar nyetir. Saya ingat saat itu beliau
belajar nyopir bersama seorang sahabat karibnya bernama “om rawi”, seorang
sopir bemo di terminal bratang. Saya dan adik saya yang lahir 5 tahun kemudian
bahagia karena setiap malam minggu, bapak dan ibu mengajak saya jalan-jalan ke
pasar pucang.
Kehidupan yang lebih baik makin kami rasakan sejakn pertengahan tahun 80
an. Ibu diterima sebagai PNS dan bapak
makin laris manis jual beli mobilnya. Dari sebuah rumah di nginden kota II/56C
kami pindah ke Nginden Baru IV/28. Di rumah ini bapak mengajak “mbah kromo”,
seorang budhe nya untuk membuka depot/warung di halaman depan rumah. Aneka
makanan di sajikan dan cukup laris karena daerah nginden baru adalah daerah
kost-kostan mahasiswa untag,unitomo dan perbanas. Tak cukup hanya itu, 3 kamar
di rumah di sewakan oleh bapak untuk kost mahasiswa. Semua demi menambah
penghasilan keluarga kami.
Akhirya, berkat Tuhan membawa kami ke sebuah rumah baru di
nginden intan timur XI/5. Di tempat inilah kami semakin merasakan betapa luar
biasanya berkat Tuhan. Ibu menerima surat ijin praktek bidan dari Dinkes
Surabaya. Sehingga rumah kami dipakai untuk praktek dan menolong persalinan.
Saya pernah mencatat, dalam sebulan pernah pecah rekor 30 orang melahirkan.
Artinya hampir tiap hari ada yang melahirkan dirumah. Sudah pasti karena kemurahan
Tuhan ini, kami memiliki kehidupan yang lebih matang. Dan bapak, tetap setia
dengan bisnis dan kegiatan “pengacara”nya. Saya ingat, dalam sebulan pernah
terjual 5 unit mobil dengan keuntungan yang luar biasa. Kami menikmatinya
dengan makan bersama makanan chiness food di kaki lima jalan nias. Sebuah
tempat yang sudah sungguh sangat mewah kala itu bagi kami.
Di masa tuanya, bapak tetap eksis dan gaul. Banyak korban sayang
dan isengnya. Salah satunya adalah Pyo. Seorang kerabat yang sangat
disayanginya. Begitu sayangnya bapak, sampai-sampai setiap badannya merasa
pegal, bapak hanya mau di pijat oleh Pyo. Terhadap keponakannya, juga begitu.
Nano yang ganteng di panggilnya ambon gara-gara kulitnya yang hitam. Lucunya,
nano tak pernah protes. Hanya berani nyengir saat dipanggil ambon oleh bapak. Lain cerita soal widya teman adik saya. Hampir
setiap main kerumah nginden, sandalnya hilang. Karena di sembunyikan oleh
bapak. Mau marah tak berani, sehingga dia hanya teriak,”Om….dimana sandalku ???”
Semua keusilan itu mulai luntur ketika usia 67 tahun, bapak
di vonis gagal ginjal. Seminggu dua kali beliau harus cuci darah di RS Dr
Soetomo. Namun toh demikian, setiap berangkat cuci darah. Beliau masih mampu setir
mobil sendiri. Ketika seorang tetangga bertanya,”mau kemana pakdhe?”Bapak hanya
menjawab,”Kuliah !” Ibu saya hanya bisa tersenyum melihat itu semua.
Menjelang ajal tiba. Di usia ke-70, Bapak masih sanggup
berjalan kaki menuju RS Husada Utama. Bahkan turun dari mobil menuju IRD,
beliau tidak mau dibantu dengan kursi roda sekalipun. Dalam penanganan tim
dokter yang hanya selama 2,5 jam. Bapak pulang menghadap Bapak di sorga dengan
senyum termanis. Disaat duka,lagi-lagi kami dibuat tersenyum lucua. Karena kunci
rumah ada di saku celana bapak saat itu. Sehingga kami terpaksa merogoh celana
yang dikenakan bapak saat meninggal, hanya untuk mencari kunci rumah.
Dari beliau saya belajar bagaimana setia dan teguh dalam
berjuang menjalani hidup. Dari beliau juga saya belajar bagaimana menjalani
hidup dengan senyuman. Dari beliau juga saya belajar bagaimana hidup rendah
hati dan bersahaja. Yang lebih penting dari itu semua, bagaimana hidup
bersanding dengan mesra dengan begitu banyak teman.
Bapak meninggalkan kami dengan berjuta kenangan manis. Kasih
sayangnya kami simpan sebagai harta warisan yang mahal harganya. Walau saat
meninggalkan kami, tak ada rekening tabungan apalagi deposito atas nama beliau.
Hanya sebuah dompet yang didalam nya hanya ada foto Ibu saya di masa muda. Dan….
uang sejumlah Rp 120.000,- (seratus dua puluh ribu rupiah). Itulah yang menjadi
harta peninggalan bapak. Tapi bagi kami, harta itu sudah sangat luar biasa.
Karena jika kami renungkan, bapak mengajarkan kepada kami untuk hidup tidak
berpaku pada harta duniawi saja.
Saya terus mengenang senyum manisnya. Saya juga terus
mengenang gayanya sebagai pejantan tangguh dalam kehidupan. Dan kini hanya
sebuah makam dan foto yang menjadi teman ketika saya rindu pada senyum manis.
Ketika saya rindu pada sifat gokil nya…
Kata batik berdasarkan etimologis (asal muasal kata) nya, merupakan gabungan
dari dua kata bahasa Jawa, yakni ‘amba’ yang bermakna menulis, dan ‘titik’ yang
bermakna titik..Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan kata batik atau
mbatik adalah melemparkan titik berkali-kali pada kain...
Saya memang pecinta berat Batik. Dan sekarang ini saya ‘mupeng” (memiliki keinginan
berat untuk memiliki-bahasa gaul anak muda) kain Batik Indigo. Sebuah kain
batik yang biasa disebut sebagai kain batik warna alam. Batik yang satu ini
cukup mahal harganya. Pewarna yang digunakan merupakan pewarna alam dari daun
tanaman bernama Indigo. Warna dominannya adalah Biru. Sebuah warna favorite
saya sejak dahulu.
Proses pembuatan Batik Indigo cukup panjang dan rumit. Berawal dari daun
pohon indigo yang direbus hingga mendidih, kemudian didiamkanm selama satu
malam.Kemudian air rebusan daun tersebut dicampurkan dengan kapur. Air dan
kapur tersebut kemudian diuleni hingga rata, hingga terlihat seperti adonan
yang agak encer. Setelah itu adonan indigo dimasukkan ke dalam wadah tertutup,
dan diperam dalam tanah (dikubur) hingga 6 bulan. Setelah masa ‘karantina’ yang
panjang itu, indigo dikeluarkan dan penampilannya sudah terlihat mengental,
seperti pasta, siap untuk digunakan. Prosese panjang itu belum selesai. Oleh
para pewarna batik, indigo masih membutuhkan perlakukan istimewa. Jika bahan
pewarna lain bisa segera digunakan dalam air rebusan. Maka ketika menggunakan
indigo, para perajin harus menggodog (merebus) indigo dengan gula jawa (gula
merah, red) selama 1 malam. Proses ini dilakukan untuk menguatkan warna biru
yang kelak akan dihasilkan oleh indigo. Karena itulah Batik Indigo memiliki
harga yang cukup mahal. Bukan hanya karena teksture nya yang alami, namun
pewarnaannya juga sangat elegance dan terlihat menawan dengan warna biru nya.
Saat menulis catatan ini, saya merasa keinginan saya untuk memiliki batik yang
satu ini semakin tak tertahankan.
Saat istirahat siang ini, saya merenung dan mengingat-ingat, Betapa panjang
dan rumit proses membatik. Berawal dari sembuah kain putih, kemudian diberikan
gambar dan aneka warna oleh sang pembatik. Ada warna hitam, ada warna putih,
ada warna cerah dan ada warna gelap. Semua terkombinasikan begitu indah. Ketika
proses memberikan gambar dan warna itu selesai. Masih ada proses yang tak kalah
hebat. Yakni mencucinya dengan air panas. Agar warna itu terbenam dengan
sempurna di atas kain.
Saya kembali merenung, kali ini tentang perjalananan kehidupan kita sebagai
manusia. Terlahir kedunia ini tanpa bisa memilih menjadi kaya atau miskin.
Bahkan tanpa bisa memilih sebagai pribadi yang menarik dengan kegagahan dan
kecantikan atau sebagai pribadi yang memiliki kekurangan fisik. Kita hadir di
dunia ini bagaikan” kain” besar (amba) yang bewarna putih. Lalu dengan proses
yang panjang, oleh “Sang Pembatik” kain itu di berikan gambar dengan
warna-warna yang sesuai dengan kehendaknya. Ada warna hitam yang kita ingat
sebagai kegagalan. Ada warna cerah ketika kita merasakan keberhasilan, Ada
warna biru ketika kita menikmati kelegaan. Ada begitu banyak warna dan gambar
kehidupan yang tertulis di sejarah perjalanan kehidupan kita. Hal itupun belum
tentu cukup, karena terkadang kita merasa sedang berada di sebuah tungku
kehidupan yang panas. Yang direndam oleh panas nya api kehidupan dunia ini.
Apa yang bisa kita katakana tentang ini semua ? Apakah kita bsia memilih
untuk menjadi sebuah kain putih besar tanpa makna ? atau menjadi kain batik
yang penuh gambar dan warna, yang dihasilkan oleh sepasang tangan SANG
PEMBATIK. Sebuah kain yang memiliki harga sangat mahal. Walau proses nya terasa
panjang dan menyakitkan. Mari kita renungkan sejenak tentang pilihan ini.
Semoga diantara kita tidak ada yang memilih hanya menjadi kain putih polos
saja. Karena tentu jenis kain ini tidak memiliki harga sama sekali.
Mari menyerahkan diri kita kepada Sang Pembatik kehidupan. Pasrah dan manut
(setia mengikuti) saja terhadap apa yang menjadi kehendak dan kreasiNya. Karena
hanya di tangan Dia kita akan memiliki harga yang mahal.
Ya…semahal kain batik
Indigo yang saya idam-idamkan. Gambarnya, Birunya, Kelembutan warnanya….Akh…
Batik Indigo. Ijinkan aku memilikimu…