Rabu, Juni 13, 2012

Capek tapi Nikmat




Bacaan : Matius 11 : 28-30


Saya tak pernah tahu siapa nama beliau. Yang pasti dia seorang penjual gethuk di pasar blauran Surabaya. Usianya sudah lebih dari 70 tahun dan sudah berjualan gethuk lebih dari 50 tahun. Saya pernah mengajaknya berbincang bincang. Dan dari perbincangan itu saya tahu bahwa sehari-hari beliau hanya tidur tak lebih dari 5 jam. Membuat gethuk dan menjualnya dipasar, itulah penyebabnya. Saya bertanya,apakah beliau tidak pernah merasa capai ? Jawabnya,"capek tapi nikmat". Saya makin penasaran dengan jawaban ini. Ketika saya tanya apa maksudnya, beliau menjawab, karena hanya dengan berjualan gethuk ini, beliau mampu mendewasakan anak-anaknya sampai mandiri dan berkeluarga. Bahkan kini anak-anaknya sudah mampu mandiri dan berkeluarga.

Seperti sepasang kerbau di sawah, yang dipasang "KUK" pada tubuhnya untuk membajak sawah. Demikian Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana kehidupan umat manusia di dunia ini. Perlu usaha yang keras, semangat yang tak pernah padam untuk menaklukkan kehidupan dunia. Tak ada seorangpun yang merasa bahwa kehidupan sekarang itu mudah. Dimana-mana ada kompetisi. Seakan-akan berlaku hukum rimba,"Siapa yang kuat, dia yang menang"

Berbahagialah kita yang menjadi milik Kristus. Ditengah perjuangan kita, terdengar suaraNya,"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Suara itu sungguh luar biasa dan menyejukkan kita. JanjiNya memang memberikan kelegaan dan bukan melepaskan semua keletihan dan kelesuan kita. Tetapi mari kita renungkan, bukankah kita akan merasa lega bila kita mampu mengatasi segala hal yang membuat kita letih dan lesu?

Yang harus kita lakukan adalah terus berjuang dan berjuang. Jangan mau kalah dengan si mbok penjual gethuk di pasar blauran. Ingat kata-kata nya, "'meski capek tapi nikmat". Tak perlu meratapi betapa capek nya kita didalam berjuang. Ingat saja betapa nikmatnya hasil ketekunan dan perjuangan kita. Ingat juga suara Kristus yang sudah pasti akan memberikan kelegaan kepada kita. Dengan itulah, KUK yang dipasang akan terasa ringan dan beban itu tidak terlalu berat bagi kita.

"Capek tapi nikmat. Capek perjuangannya tapi nikmat didalam mensyukuri hasilnya"



Kamis, Mei 24, 2012

Ada Udang di balik Peyek


Iwak peyek...iwak peyek...iwak peyek sego jagung.....

Lagu trio macan itu begitu terkenal. Sampai-sampai anak-anak kecil pun hapal dan menyanyikannya. Saya ternasuk penikmat peyek. Apalagi peyek Udang buatan ibu saya. Beliau dan istri saya tahu betul bagaimana saya kecanduan peyek udang ini. Sekilo udang yang dipeyek, mampu saya habiskan dalam sehari dengan atau tanpa nasi sekalipun. Sampai-sampai terkadang ibu saya harus menyembunyikan setoples peyek buatannya agar saya tidak menghabiskannya sendirian. Ini semua karena kedua anak saya pun mulai kecanduan peyek udang buatan ibu saya. Dan sudah pasti Ibu saya lebih mementingkan kedua anak saya daripada saya yang menurut beliau semakin gemuk karena tidak bisa mengontrol pola makan sehari-hari.

Belakangan saya tahu, udang sendiri sebenarnya harus dikurangi untuk di konsumsi. Terutama untuk seseorang yang memiliki kolestrol tinggi didalam tubuhnya. Bahkan menjaring informasi di internet, makan undang dan minum jeruk (vitamin C) dapat mengakibatkan keracunan dalam tubuh akibat timbulnya zat arsenik. Entah informasi ini akurat atau tidak, dan sudah terbukti melalui penelitian atau hanya sekedar “hoax” (informasi palsu). Tetapi jika memang benar, saya agak ngeri juga dengan peyek udang. Bahan bakunya saja yakni udang, sudah mengancam naiknya kolestrol. Apalagi di peyek (di goreng) dengan minyak, yang pasti juga berpotensi menaikan kolestrol. Wah......

Kesimpulannya, sesuatu yang terlihat dan terasa nikmat sebenarnya belum tentu baik dan aman. Entah siapa yang mengarang peribahasa “ ada udang di balik batu”. Yang pasti udang menjadi subject negatif didalam peribahasa itu. Dan sekarang saya lebih suka menyebutnya sebagai “ada udang di balik peyek”. Sesuatu yang sungguh terasa nikmat, namun ternyata berpotensi membawa sengsara...

Jaman sekarang, banyak hal yang terkesan seperti itu. Dimana mana nampak figur-figur pribadi yang nampak baik namun berhati buas. Mulutnya berkata-kata sesuatu hal yang baik. Namun hatinya, pikirannya bertolak belakang dengan manisnya kata-kata yang keluar dari bibir. Seringkali memproklamirkan kebaikan dan ketulusan, namun perbuatanya tak pernah lepas dari kejahatan,egoisme dan kemunafikan. Yang terparah adalah, banyak pribadi yang tampil baik bukan dilandasi ketulusan hati. Namun demi meraih sebuah popularitas ditengah-tengah sebuah komunitas. Perbuatan yang baik itu sengaja di tebar sebagai sebuah cara untuk menyampaikan pesona di hadapan orang-orang disekelilingnya. Keinginan untuk popular lebih utama dibandingkan ketulusan hati didalam melakukan sebuah perbuatan.

Syair lagu Peterpan yang dinyanyikan Ariel menggelitik batin kita.

Buka dulu topengmu...buka dulu topengmu
...biar kulihat wajahmu...biar kulihat warnamu”

Yah, kadang kita tak sadar bahwa seringkali kita hidup dengan topeng di wajah kita. Memoles segala sesuatunya agar nampak indah. Agar nampak sebuah profil pribadi yang sempurna. Namun ternyata itu adalah sebuah topeng. Yang ketika dibuka, munculah wajah bopeng.. Wajah dan Warna kita yang asli.

Teman,
Ada udang dibalik peyek...
Mari kita belajar membuang kepalsuan didalam hidup kita. Mari membentuk pribadi kita agar memiliki profil yang sebenarnya tanpa kepalsuan dan kemunafikan. Biarlah segala yang kita ucapkan,kita perbuat semuanya hanya untuk kebaikan umat Tuhan dan memuliakan Tuhan. Bukan agar diri kita popular dan di sanjung oleh sebuah komunitas dimana kita berada. Hanya diperlukan sebuah hati yang jernih dan bening untuk melakukan itu semua. Dan untuk memulainya, mari kita ingat baik-baik. Bahwa orang menilai kualitas pribadi kita, dari ketulusan perbuatan kita.
Bukan dari kemulusan kita didalam berbicara.

Ada udang dibalik peyek...
Biarlah hanya udang yang menjadi subject negatif....
Dan bukanlah kita....

Karena kita bukan Udang, yang otak dan pantatnya berdekatan...
Sampai-sampai ada anekdot, “ Dasar otak udang !”
Akh...lagi-lagi udang jadi subject yang negatif...

Surabaya, 24 Mei 2012

Rabu, Mei 23, 2012

Siapa Takut ?


Bacaan : Matius 14 : 22-36

Menjadi seorang pembalap mobil Formula 1, bukan hanya bermodalkan ketrampilan mengemudi mobil balap dan bisa ngebut melewati berbagi tikungan tajam dengan kecepatan hampir 300 km/jam. Tetapi juga harus memiliki keberanian dan kemampuan mengatasi rasa takut. Siapa yang tidak takut duduk dan berkendara dengan mobil melewati tikungan-tikungan tajam dengan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan sebuah pesawat. Salah sedikit atau kehilangan konsentrasi, dapat menimbulkan kecelakaan dan kematian.

Memiliki rasa takut adalah sebuah sisi kejiwaan seorang manusia. Dan itu bisa dipahami selama masih dalam taraf wajar dan tidak berlebihan. Beberapa orang memiliki rasa takut yang berlebihan dengan alasan yang sama sekali tidak wajar. Ketakutan itu menghantui mereka dan pada akhirnya dapat merusak kehidupan mereka akibat hilangnya kedamaian di dalam hati. Jika kondisi yang terjadi adalah demikian, maka sangat dibutuhkan bantuan orang lain yang memiliki keahlian untuk mengatasi dan mengendalikan ketakutan.

Pengalaman murid-murid Yesus yang mengalami ketakutan luar biasa akibat perahu yang mereka tumpangi terancam tenggelam akibat cuaca badai, mengingatkan kita bagaimana mengendalikan ketakutan bersama Yesus. Apapun yang menjadi alasan bagi kita untuk takut seharusnya bisa kita kendalikan ketika kita mengingat bahwa Yesus berkuasa atas segala hal. Bersama Dia dan melalui kehendakNya, maka badai dan topan yang menghalang akan berubah menjadi sebuah kedamaian. Kuncinya adalah menyerahkan diri dan percaya bahwa Tuhan mampu mendatangkan segala perkara yang mendatangkan kebaikan bagi kita.

Demikian juga mengatasi ketakutan yang terjadi di dalam diri kita terkait rasa tidak mampu dan rendah diri. Percayalah bahwa masing-masing manusia diciptakan unik dan berbeda dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Setiap manusia memiliki nilai dan keahlian masing-masing. Melalui sebuah kehidupan bersama dengan sesama, rasa saling melengkapi itu akan terjadi. Ini soal rasa percaya diri saja, dan bukan soal rasa takut. Mulai sekarang mari kita berani berkata," Siapa takut ?"

"Aku berani dan bisa. Siapa takut ?"


Jumat, April 13, 2012

When I fall in love


Masih ingat rasanya ketika kita jatuh cinta ?
Kata Oma Titiek Puspa, jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya…
Kata Gombloh lain lagi, Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat…
Kalau menurut saya sendiri, jatuh cinta rasanya seperti permen nano-nano. Manis asem asin…ramai rasanya !!!

Mungkin kita tertawa bila mengenang bagaimana rasanya jatuh cinta. Apalagi cinta pertama. Sehari tak berjumpa, serasa setahun tak bertemu. Seminggu tak bertemu serasa 7 purnama tak jumpa. Mau makan,mandi,tidur…selalu ingat kamu ! Begitu luar biasanya “virus cinta” ini. Maka tak salah bila Doel Sumbang mengatakan,” Cinta adalah Anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara bila tak punya cinta”. Maka, jika anda pernah atau bahkan saat ini sedang jatuh cinta…maka berbahagialah. Karena anda terhindar dari kesengsaraan akibat tak merasakan anugerah cinta !
Darimana datangnya cinta ? Kata orang tua, dari mata turun kehati. Cinta diawali dari kekaguman yang muncul setelah pandangan mata yang terarah dan di balut dengan hati. Maksudnya disini adalah dari sebuah pandangan mata, kemudian otak kita mengirimkan pesan ke hati. Selanjutnya hati dan otak kita bekerja sama untuk membangkitkan hasrat untuk memiliki. Apakah benar begitu adanya ? Entahlah…saya juga tidak yakin. Tapi yang pasti begitulah saya ketika jatuh cinta pada pacar saya dulu yang sekarang sudah menjadi istri saya. Dari pandangan mata saya dalam sebuah kelas katakesasi Sidhi di gereja. Wajah dan mata indah bola ping-pongnya membuat mata saya berhenti berkedip sejenak. Apalagi ketika saat itu saya ditugaskan sebagai ketua kelas katakesasi sidhi dan dia sebagai sekretarisnya. Maka terjadilah “affair” antara Ketua dan sekreataris pada saaat itu. Kami berangkat dan pulang katakesasi bersama,. Terkadang sehabis katakesasi, kami pergi “kencan” yakni mampir untuk cari makan malam bersama. Dari situlah tumbuh benih-benih cinta yang pada akhirnya membawa saya dan dia kepada kehidupan berumah tangga.
Mungkin masing-masing orang memiliki proses jatuh cinta yang berbeda dengan saya. Ada seorang teman yang jatuh cinta pada pasangannya diawali dengan rasa iba dan kasihan. Karena biasa menunjukkan perhatian dan kasih saying, akhirnya cinta bersemi. Namun ada pula yang mengawali proses jatuh cinta karena sebuah proses bisnis. Diawali dengan sebuah kerjasama dagang, namun karena asset yang semakin besar akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Aset tetap terjaga, relationship menjadi lebih berkualitas dari seorang partner bisnis menjadi sepasang suami istri.
Apakah cinta selalu membawa kebahagiaan bagi kita ? Maybe Yes…Maybe No. Tergantung bagaimana kita merawat cinta itu. Dan mengarahkan komitment kita bersama agar cinta yang sudah bersemi terus mekar dan harum semerbak. Tidak ada cinta yang terus mekar dan bertumbuh tanpa ada upaya yang serius dari sebuah pasangan. Cinta hanya bisa bersemi ketika masing-masing pasangan mau berkomitmen untuk mengendalikan egoisme pribadinya masing-masing dan menaruhnya didalam sebuah komitmen kebersamaan atas nama cinta. Selama egoisme tak terkendalikan, maka dapat dipastikan bahwa cinta itu hanyalah milih salah seorang saja, bukan milik bersama.
Nah, itu cinta kita kepada manusia yang menjadi pasangan hidup kita. Bagaimanakah cinta kita kepada Tuhan? Apakah anda pernah merasa jatuh cinta kepada Tuhan? Kalau anda pernah merasakan jatuh cinta kepada Tuhan, apakah rasanya juga sama seperti tahi kucing rasa coklat ? Apakah berjuta rasanya serta siang malam terbayang-bayang selalu? Kalau pertanyaan ini susah untuk dijawab, mungkin pertanyaan ini akan kita permudah.Pernahkah anda “berkencan” dengan Tuhan ?
Kencan dengan Tuhan tentu memiliki berbagai macam tafsir. Bisa melalui doa,pujian,persekutuan, pelayanan dan sebagainya. Namun bagi saya, inti berkencan dengan Tuhan adalah sebuah situasi dimana kita memiliki keakraban spiritualitas denganTuhan. Soal wujudnyata nya, masing-masing orang bisa berbeda-beda. Ada yang bekencan dengan Tuhan melalui gitar dan pujian memuliakan Tuhan. Ada yang berkencan dengan Tuhan dengan berdoa. Dan masih banyak lagi cara berkencan dengan Tuhan. Sekali lagi masing-masing orang berbeda cara. Mana yang lebih baik diantara berbagai cara tersebut ? Apa keuntungan berkencan dengan Tuhan ? Saya hanya bisa menjawab, bahwa yang tahu jawabannya adalah orang yang hidupnya selalu nampak damai dan sukacita walau harga BBM sebentar lagi naik. Orang yang selalu bisa tersenyum walau memiliki banyak persoalan kehidupan dunia. ORang yang selalu bisa membagi berkat kepada sesama dan menjadi saluran berkat. Karena mereka bisa mendapatkan semua itu karena intimnya mereka dengan Tuhan dan berkualitasnya kencan mereka dengan Tuhan.
Teman-teman,
Bagi anda yang hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada sesama manusia (terutama kepada pasangan kita). Namun belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada Tuhan. Saya hanya bisa berkata, cobalah untuk memulai sebuah kencan dengan Tuhan. Rasanya benar-benar seperti permen nano-nano…manis,asem,asin, ramai rasanya. Kadang terasa manis ketika kita sedang menerima berkat Tuhan. Kadang terasa asem, bila doa kita tak terjawab. Kadang terasa asin bila jawaban Tuhan bukan seperti keinginan kita. Kalo sudah begitu situasinya mirip-mirip ketika kita jatuh cinta pada pasangan kita. Ada mesranya, jikalau pas menerima berkat Tuhan. Ada ngambeknya, bila Tuhan serasa tak mendengar doa kita. Ada marahnya bila apa yang diberikanNya tak sesuai dengan keinginan kita. Seru banget !
Yang pasti dan luar biasa adalah, apapun sikap kita kepada Tuhan. Cinta dan kasihNya kepada kita tetap dan abadi. Walau kita sering mendukakanNya, sering menduakanNya namun kasihNya tak pernah berkesudahan. CintaNya kepada kita bukan cinta biasa. Kalau sudah begitu, saya ingin sekali mengatakan kepada anda semua. Rugi besar bila anda tak pernah berkencan dan jatuh cinta kepada Tuhan. Jadi…selamat jatuh cinta kepadaNya
Namun, bila anda sudah mencoba dan merasakan indahnya jatuh cinta kepadaNya. Jangan Sungkan untuk share dengan saya… Supaya saya bisa mengatakan,”Aku makin cinta kepadaMu…Tuhan”
Surabaya, 21 Maret 2012
Inspired by pengirim renungan pagi “kencan dengan Tuhan”

Senin, Maret 19, 2012

Tombol Escape dan Tombol Power


Saya belajar komputer mulai ketika saya kelas 2 SMP. Waktu itu saya dibelikan orang tua saya satu unit computer bekas type XT. Belum seperti computer jaman sekarang tentunya. Kala itu di butuhkan sebuah disket besar untuk melakukan “booting” atau proses menyalakan komputer. Apalagi programnya, seingat saya saat itu yang tercanggih adalah WS (Wordstar) dan Lotus. Belum ada Microsoft office milik windows ataupun open office milik linuk. Memang, Komputer beserta perangkatnya berkembang pesat dari sejak awal di munculkan sampai terkini. Terutama sejak era informasi seperti sekarang ini. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi dan semakin waktu tentu semakin canggih.

Namun ada sesuatu hal yang tak pernah berubah. Kalaupun berubah tidak terlalu significant menurut saya, yakni “keyboard” computer. Dari susunan hurufnya, sampai bentuk keyboard selalu sama. Demikian juga dengan tombol-tombolnya, nyaris sama ! Yang tak berubah lainnya adalah fungsi tombol pada pada CPU nya yakni tombol power dan tombol restart. Tombol power berfungsi untuk mengaktifkan, sedangkan tombol restart untuk melakukan re-boot. Bahkan,akhir-akhir ini tombol power dan restart dijadikan satu tombol, khususnya untuk CPU terbaru. Anda yang biasa mengoperasikan komputer tentu tahu betul tentang ini.

Sejujurnya saya tertarik dengan dua tombol utama yakni tombol escape dan tombol power. Menurut fungsinya, Tombol escape digunakan untuk “kondisi darurat”. Bila computer ngadat, tombol ini ditekan untuk keluar dari kondisi ngadat atau yang biasa orang sebut “hang”. Sedangkan Tombol power di pencet untuk mengkatifkan komputer dan membuat komputer mampu melakukan segala sesuatu dengan begitu hebatnya.

Secara pribadi saya punya tombol escape. Apalagi ketika saya merasa sedang “hang”. Yakni sebuah kegiatan “memotret”. Entah mengapa saya begitu “keracunan dan kecanduan” untuk kegiatan yang satu ini. Ketika penat melanda, kamera terasa menjadi sebuah tombol escape yang sempurna buat saya. Apalagi ketika dengan kamera itu saya mendapatkan object foto yang menarik dan saya melakukan kegiatan olah digital untuk menyempurnakan tampilan foto. Saya betah berjam-jam untuk melakukan itu didepan komputer. Setelah itu semua selesai, saya bisa tidur nyenyak !

Teman/sahabat saya lain lagi gayanya. Dia masih “single” atau belum menikah. Sepengetahuan saya dia belum punya pacar. Namun sepengetahuan saya juga, saat ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Bahkan ini cinta pertamanya (sekali lagi kalo saya tidak salah). Nah, teman saya ini punya tombol power didalam kehidupannya. Tombol itu “terpencet” otomatis ketika dan setelah dia bertemu dengan sang pujaan hatinya. Biasanya itu terjadi ketika libur akhir pekan. Kalo dia sudah bertemu dengan gadis yang sedang dicintainya. Dia merasakan hidup yang penuh warna dan penuh semangat. Apapun akan mampu dia laksanakan, bahkan bersepeda dari luar Surabaya menuju kota Surabaya sekalipun. Asal dia sudah bertemu dengan sang pujaan hati maka terasa bahwa tombol power itu…terpencet...otomatis ! Pikiran segar, badanpun bugar.

Apapun namanya, dua tombol ini tentu merupakan tombol ajaib bagi saya dan teman saya. Beda nama dan beda fungsi. Tapi hasilnya satu yakni membangkitkan semangat kehidupan. Waktu memencetnya pun beda, tapi yang saya tahu pasti kalo kedua tombol ini tak terpencet, pasti serasa “kurang darah”. Terasa letih dan lesu dalam menjalani kehidupan…

Malam ini saya bahkan baru menyadari, bahwa sebenarnya Tuhan yang maha kuasa itu adalah sumber tombol escape maupun tombol power sekaligus. Dengan kuasaNya yang ajaib, Tuhan bahkan mengendalikan kedual tombol itu dengan begitu sempurnanya. Sayang, manusia ini sering lupa dengan hal ini. Atau kalau pun tak lupa, mungkin hanya menjadikan Tuhan sebagai tombol escape saja. Artinya disini adalah, Jikalau menghadapi keruwetan hidup, kita buru-buru memencetnya agar segera terbebas dari keruwetan. Tetapi jika sedang bahagia, maka kita lupa bahwa sesungguhnya yang memegang dan memiliki tombol power kita itu adalah DIA.

Teman-teman yang terkasih,

Pasti semua setuju, bahwa Tuhan kita yang sempurna dan baik itu tidaklah pantas bila hanya berperan sebagai tombol escape saja. Sebagai Sang Pencipta, Dia bahkan lebih pantas untuk menjadi tombol power bagi kita. Ketika kita dekat padaNya rasakan kekuatan Allah itu menjadi kekuatan kita. PowerNya menjadi power bagi kita. Bahkan serunya lagi, seperti tombol power dan tombol restart di komputer yang saat ini sudah jadi satu. Maka disaat kita memencet tombol power itu, maka sesungguhnya kita bukan hanya mendapatkan “power”nya saja tetapi juga mendapatkan “way out” nya. Bukan hanya dapat kekuatanNya tetapi juga mendapat “penghiburanNya”

Bahagianya kita menjadi milik Allah. Dia begitu mencintai dan mengasihi kita. KebaikanNya kita rasakan tak berkesudahan. Dan atas perkenanNya kita memiliki jaminan kehidupan yang abadi.

Hanya teman baik saya tadi sering iseng, Pernah dia bilang, Mas...sampeyan jangan keasyikan mencet tombol escape terus lho… Nanti tombol power nya “shut down” otomatis …

Saya langsung menjawab dalam hati, “ Oh tidaaaaak…!!!” Aku tak mau itu terjadi. Dan saya pun sekarang yakin. Setelah anda membaca catatan ini. Pasti dalam hati anda juga akan berkata seperti saya tadi….Hehehe

Rawatlah tombol power itu teman…

dan tetap miliki juga tombol escapemu.

Bijaklah dalam mengkombinasikan keduanya.

Surabaya, 18 Maret 2012

Inspired by pejantan tambun…

Senin, Februari 06, 2012

Sebuah benda bernama DASI


Seorang Pria terihat gagah dan berwibawa dengan sebuah dasi yang dikenakannya. Dia nampak bangga karena tampil perlente dan berwibawa dengan dasi yang digunakannya. Apalagi karena dasi itu dipakainya bekerja sehari-hari didalam sebuah kantor megah, berlantai marmer dan ber AC yang sangat dingin. Lebih bangga lagi, karena untuk berangkat bekerja ke kantor yang megah itu. Ada sebuah mobil mewah beserta pengemudinya yang siap mengantar, dan pria itu duduk di jok belakang dengan santai sambil membaca Koran disepanjang perjalanan.

Di tempat lain, seorang pria nampak berkeringat dan sangat sibuk. Pakaian serta dasi yang dikenakannya terlihat kumal akibat aktifitas yang begitu banyak. Mondar mandir dari bagian belakang sebuah ruangan, menuju bagian tengah ruangan yang didalamnya ada banyak orang-orang yang sedang berdiskusi sambil menikmati makan siang. Pria itu tentu berbeda tugas dengan pria yang saya sebut sebelumnya. Demikian juga dengan dasi yang dikenakannya, sudah pasti berbeda “nasib” dengan dasi yang dikenakan pria yang berkantor megah tadi.

Pria yang pertama adalah seorang PEJABAT. Sedangkan pria yang kedua adalah PELAYAN restoran. Sebuah status yang sangat berbeda.Tetapi bisakah kita membedakan dasi yang mereka pakai sebagai dasi PEJABAT dan dasi PELAYAN ? Rasanya tidak mungkin, karena dasi adalah dasi. Dan menjadi hak siapa saja untuk mengenakannya, baik bagi seorang pelayan maupun seorang pejabat. Bahkan sering kita dengar, Penjahat Berdasi…Sungguh luar biasa peminat benda bernama dasi ini….

Diawal tugas saya menjadi seorang sales, saya adalah salah satu sales yang paling rajin memakai dasi. Bagi saya, dasi adalah sebuah benda sacral yang harus dipakai dalam setiap kegiatan dinas saya. Karenanya dalam setiap kunjungan ke pelanggan, ataupun pertemuan bisnis dengan pelanggan, saya selalu mengenakan dasi. Mungkin hal ini karena “doktrin” seorang sales senior saya yang kemana-mana selalu berdasi. Hobinya berdasi itu sudah mendarah daging. Sampai senangnya, dia bercerita bagaimana dia selalu menggunakan dasi dalam setiap tugas “sales”nya. Tak peduli naik bus kota, sepeda motor sampai jalan kaki sekalipun, dasi itu selalu setia menemaninya. Saya jadi teringat bagaimana saya mengawali tugas sebagai seorang sales di awal-awal saya bekerja. Waktu itu saya berangkat dari kantor saya di daerah jalan bongkaran Surabaya dengan diantar sebuah mobil kantor. Sesampainya di daerah kembang jepun, saya bersama tim sales yang lain harus door to door untu memasarkan product yang saya jual. Dasi yang saya pakai sebenarnya membuat saya tidak merasa nyaman. Karena sejujurnya bagi saya, dasi itu hanya pantas di pakai oleh orang-orang top yang bekerja dan berposisi sebagai top management juga. Namun karena berdasi itu diminta oleh kantor dimana saya bekerja, saya terpaksa setia memakainya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan memakai dasi itu semakin mendarah daging. Apalagi ketika saya harus bertugas ke Jakarta untuk branches meeting bersama rekan-rekan sales cabang di Indonesia ini. Di Jakarta, banyak orang memakai dasi. Tak peduli apa yang menjadi tugas dan jabatan mereka. Dalam sebuah kesempatan makan siang bersama di sebuah restoran papan atas, saya sempat tersenyum geli karena bukan hanya kami yang berdasi, tetapi juga para pelayan restoran itu pun juga berdasi. Nyaris tak berbeda dengan kami. Nyaris tak ada bedanya antara pelayan dan yang dilayaninya.

Lantas dimana kesakralan sebuah dasi ?

Pertanyaan itu sesungguhnya tak pernah terjawab oleh saya. Apalagi sejak 12 tahun lalu saya pun harus selalu berdasi ketika pergi ke gereja di hari minggu. Selama 12 tahun itu pula saya tak pernah berhenti bertanya, kenapa saya harus selalu pakai dasi ketika melayani jemaat. Sebagai anggota majelis jemaat, memang dasi adalah sebuah kesepakatan bersama yang harus selalu digunakan dalam setiap pelayanan ibadah. Namun terus terang yang menjadi keraguan saya adalah, menjadi seorang anggota majelis jemaat itu sesungguhnya adalah menjadi seorang PEJABAT GEREJAWI sekaligus menjadi PELAYAN JEMAAT. Coba bayangkan, bagaimana bisa kita bersikap seperti itu sekaligus ? Sebagai PEJABAT dan PELAYAN. Sebuah Subject yang sangat berbeda status sosialnya. Tak perlu saya jelaskan bedanya, saya percaya anda semua tahu apa bedanya antara PEJABAT dan PELAYAN. Tugas sebagai pejabat gerejawi pun berbeda dengan tugas sebagai pelayan jemaat. Bedanya tak tanggung-tanggung jauhnya, seperti bumi dengan langit. Sebagai pejabat gerejawi kami dituntut untuk menjadi teladan dalam perkataan,perbuatan dan tentu saja kehidupan iman. Sebagai pelayan kami dituntut untuk melayani siapa saja yang menjadi jemaat beserta segala keperluannya, terutama berkaitan dengan pembinaan iman. Menjalankan kedua tugas itupun, harus selalu ada dasi yang menemani saya.

Saya pernah kuatir, jangan-jangan karena terlena pakai dasi ini, saya lebih condong bersikap sebagai seorang pejabat daripada seorang pelayan. Apalagi bila karena dasi ini sayamenjadi sosok yang dipuja puji orang lain…Wah ngeri !

Saya paham betul, yang ideal adalah tetap berdasi namun berjiwa melayani dengan tulus. Saya sadar seharusnya saya bersikap terus seperti pria kedua tadi. Yang rela dasi nya kumal karena aktifitas pelayanannya. Yang tak pernah bersikap congkak karena memakai dasi karena ingat betul jati dirinya sebagai seorang pelayan. Yang tak pernah malu menyuguhkan hidangan yang membuat orang-orang yang kita layani menjadi puas dan bersukacita. Dasi yang dipakai utk pria kedua itu memang terasa lebih sakral dan bermanfaat.

Dasi tetaplah dasi…Sebuah benda yang biasa saja.

Bukan dia yang membuat kita terlihat terpandang. Bukan karena harga nya yang mahal akhirnya menjadikan kita di hormati orang lain. Namun karena bagaimana kita menghayati dan bertanggungjawab ketika mengenakannya. Dasi adalah perlambang sebuah tugas sebagai PEJABAT sekaligus PELAYAN. Sebuah sikap yang akhir-akhir ini sejujurnya langka di negeri kita. Namun tentu benda bernama dasi itu tak mampu mengelak dan menolak untuk dipakai seorang PEJABAT yang tak punya jiwa melayani. Dasi hanya bisa pasrah. Kitalah yang seharusnya tahu diri…Apalagi ketika kita merasa bahwa dasi ini hanya menambah kemegahan bagi diri kita tanpa mendatangkan manfaat lain bagi hidup kita.


Teman-Temanku sesama pemakai Dasi…

Mari kita jaga kesakralan dasi sebagai sebuah benda yang mencerminkan sosok PEJABAT yang MELAYANI. Karena sesungguhnya itulah yang diharapkan Kristus bagi kita. Jangan pernah ragu untuk “membasuh kaki” sesama kita. Karena DIA pernah melakukan itu untuk murid-muridNya

Jangan pernah capek memakai dasi, apalagi ketika kita masih memakainya dan kita merasa ada banyak hal yang masih belum bisa kita perbuat. Teruslah memakainya, dan biarlah dasi itu menguatkan dan mendampingi kita untuk bersikap sebagai seorang “PEJABAT” yang berjiwa melayani…


Bagi para wanita,

Berbahagialah bila didalam kehidupan anda telah memiliki Pria Berdasi…


Dedicated to the men in neckties

Rabu, Februari 01, 2012

"OUR ENDURO"


Mungkin tidak banyak yang tahu, istilah “Enduro”. Namun bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia “extreme sport” pasti tahu persis tentang istilah ini. Enduro adalah salah satu bentuk olah raga bermotor yang menggunakan medan off road. Dalam olah raga ini yang dinilai adalah ketahanan pengendara dan sekaligus kendaraan bermotor yang dikendarai terhadap tantangan yag dihadapinya. Karena pengertian seperti inilah, PERTAMINA menggunakan ENDURO sebagai salah satu merk minyak pelumas yang dijualnya. Sebagai sebuah merk, diyakinkan kepada konsumen bahwa minya pelumas ini akan membuat ketahanan khusus bagi mesin bermotor yang menggunakannya khususnya terhadap medan-medan berat.

Mengapa malam ini saya ingin menulis tentang “ENDURO ?”. Sejujurnya karena pada hari in saya menghadapi “medan off road” didalam kehidupan saya. Memulai aktifitas dikantor lebih pagi dari biasanya karena hari ini, Presiden Direktur dan Direktur saya hadir dan berkunjung ke Surabaya dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan gedung di kantor tempat saya bekerja. Hari ini pun terpaksa saya berangkat bekerja menggunakan sepeda motor, karena parkir mobil di kantor tidak akan cukup menampung tamu yang hadir dalam acara tersebut. Untung pagi tadi cuaca bersahabat. Dan saya menikmati perjalanan ke kantor lewat jalan baru “MERR IIC” yang membuat perjalanan saya hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk jarak tempuh sepanjang 28 KM.

Sampai kantor langsung sibuk, kebetulan saya ditunjuk menjadi panitia pelaksana yakni sebagai sie perlengkapan dan sie dokumentasi. Sangat cocok untuk ukuran tubuh sebesar saya, menjabat sebagai sie perlengkapan. Dan juga sie dokumentasi yang sesuai dengan kegilaan saya pada fotographi. Semua berjalan sangat lancar dari jam 10.00 sampai dengan jam 13.00 wib. Saya merasakan capek yang luar biasa karena harus berdiri selama hampir 3 jam sambil bertugas merekam kegiatan dalam kamera Canon saya. Selesai acara, masih ada pengarahan direksi untuk staff terkait tantangan di tahun 2012 ini. Pesannya singkat, bekerjalah lebih baik, lebih serius dan lebih maksimal karena tantangan yang kita hadapi tidaklah mudah di Tahun 2012 ini. Selesai acara, didalam ruangan sudah siap menanti acara meeting lanjutan. Kali ini sesuatu yang baru saja dimulai ditahun 2012 ini. Istilahnya keren, “WEB MEETING CONFERENCE FOR SALES FORCE”. Intinya adalah rapat untuk para sales, namun kali ini melibatkan 3 kota yakni Surabaya, Jakarta dan SEOUL-Korea Selatan. Saya sebenarnya sudah agak terbiasa mengikuti pola meeting dengan Head Office Principal saya di Seoul. Namun kali ini meeting yang dilakukan sangat detail dan berfokus pada pengingkatan kinerja sales force. Banyak hal disampaikan, terutama terkait target Principal yang dibebankan kepada kami. Masih belum jauh berbeda dari tahun kemarin, hanya sekitar 2000 Teus (ekuivalen dengan container size 20’) per bulan. Namun yang menjadikan Kegalauan adalah diluncurkanya sebuah program baru berjudul SFA (sales force automation). Dalam program ini kami harus menjadwal kunjungan kami kepada target customer secara detail setiap hari. Kapan rencananya, dan berapa lama durasi nya, sampai apa yang akan dibicarakan sekaligus berapa target goal nya. Saya sendiri tak pernah menduga akan sedetail ini laporan yang diminta. Yang lebih membuat galau adalah penilaian nantinya bukan hanya kepada Tim Sales, namun juga bersifat target personal. Saya melirik 2 orang junior saya, yang mukanya langsung pucat pasi mendengar paparan dari Head Office. Singkat cerita, meeting selesai jam 17.00 wib dan akan dilanjutkan besok pagi jam 09.00 wib.

Setelah segala pekerjaan berkaitan laporan dan analisa selesai dikirimkan, saya segera berkemas dan pulang. Langit terlihat mendung, mungkin solider terhadap hati kedua junior sales saya sore itu. Asyiknya lagi, baru 500 meter keluar dari kantor, langit mendung itu berubah menjadi hujan yang cukup deras. Dan saya makin “merasa asyik” karena terpaksa merasakan basah dan dingin berkendara sepeda motor bersama ratusan pengendara sepeda motor yang lainnya. Sejujurnya saya hanya ingin segera pulang sore tadi. Namun saya teringat pesan mesra istri saya lewat blackberry messenger ,” Papah sayang xixixixix kalo gk capek, gk repot dan gk habis…gk kehabisan…aku pengen garang asemya pak Seger” Pria mana yang tahan terhadap rayuan seperti itu. Atas nama cinta, saya arahkan perjalanan pulang saya melewati depot sate pak seger di Kertajaya. Dingin semakin menusuk badan, celana ini sudah basah. Untung garangasem itu masih ada. Saya membelikan satu untuknya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumah.

Saya masih merasakan beratnya beban yang harus dipikul dalam tugas dan tanggungjawab dikantor. Masih terbayang terus senyum galau dua junior sales saya. Ada kekuatiran juga dalam hati saya, apakah saya bisa mengemban misi yang diberikan dan target yang ditetapkan. Tak terasa bibir saya mulai terbuka, dan keluarlah sebait syair lagu Kidung Jemaat 372, “ Pikulah salibmu saja…pikul terus….Lihatlah mahkota Raja, Agung Kudus” Lagu ini tak terasa terucap dari bibir saya. Dan menghangatkan tubuh serta menenangkan pikiran saya. Sore itu walau dengan basah kuyup saya putuskan mampir ke rumah Ibu di nginden. Hanya melihat senyumnya saya, mungkin saya akan terasa tenang. Dan memang seperti itu yang saya rasakan ketika berjumpa beliau. Sampai rumah, pukul 18.30 wib saya di sambut kedua belahan jiwa saya. Aura yang kecil menyapa saya sambil mengangkat tangan,” Hallo Papah…selamat pagi” Saya tertawa habis, melihat kepolosannya yang menyapa saya “selamat pagi” padahal hari sudah gelap.

Terasa hangat jiwa saya, terasa ringan beban saya melihat senyumnya.

Saya tahu, tak ada kehidupan yang mudah sekarang ini. Semua kehidupan serasa medan off road yang harus kita jalani dengan ketangguhan batin dan mental kita. Tak terbayang betapa beratnya medan off road yang harus dijalani anak-anak kita kelak, karena sekarang aja sudah demikian beratnya. Mungkin sejak sekrang kita harus menyiapkan mental yang teguh bagi anak-anak kita, agar bertahan dalam “medan off road” kehidupan ini. Saya pun teringat pesan Pak Dahlan Iskan (mantan DIRUT PLN) yang sekarang menjadi Menang BUMN, yakni “ BERHENTILAH MENGELUH dan KERJA…KERJA…DAN KERJA”. Mungkin ini hampir sama dengan apa yang menjadi pesan Tuhan Yesus bagi kita, “Pikulah Kuk yang kupasang, karena bebanku enak dan ringan (Matius 11 : 30)”

Teman-Teman khususnya yang masih muda,

Saya bukan hanya pengen curhat lewat tulisan ini. Tetapi saya benar-benar ingin berbagi bahwa sekarang tak ada yang merasakan bahwa hidup itu mudah. Namun apapun yang kita hadapi saat ini, mari berpikir positif bahwa masih ada Tuhan yang baik dan sayang kepada kita. Masih ada cinta dan kehangatan keluarga kita. Masih ada teman-teman yang menjadi penolong dalam kehidupan kita. Seberat apapun “medan off road” yang ada, mari kita tunjukan ketangguhan kita. Mari kita nikmati goncangannya,hentakannya dan sensasinya. Tetaplah focus agar kita mampu melewatinya. Lakukan yang terbaik agar kita mendapati arti hidup yang berarti. Kita bisa melewatinya, bukan karena kemampuan kita, namun karena Pertolongan dan TuntutanNya. Selamat berjuang…maju terus untuk kehidupan yang lebih baik.

Tuhan memberkati….

Dedicated for my junior sales in my office…