Jumat, April 13, 2012

When I fall in love


Masih ingat rasanya ketika kita jatuh cinta ?
Kata Oma Titiek Puspa, jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya…
Kata Gombloh lain lagi, Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat…
Kalau menurut saya sendiri, jatuh cinta rasanya seperti permen nano-nano. Manis asem asin…ramai rasanya !!!

Mungkin kita tertawa bila mengenang bagaimana rasanya jatuh cinta. Apalagi cinta pertama. Sehari tak berjumpa, serasa setahun tak bertemu. Seminggu tak bertemu serasa 7 purnama tak jumpa. Mau makan,mandi,tidur…selalu ingat kamu ! Begitu luar biasanya “virus cinta” ini. Maka tak salah bila Doel Sumbang mengatakan,” Cinta adalah Anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara bila tak punya cinta”. Maka, jika anda pernah atau bahkan saat ini sedang jatuh cinta…maka berbahagialah. Karena anda terhindar dari kesengsaraan akibat tak merasakan anugerah cinta !
Darimana datangnya cinta ? Kata orang tua, dari mata turun kehati. Cinta diawali dari kekaguman yang muncul setelah pandangan mata yang terarah dan di balut dengan hati. Maksudnya disini adalah dari sebuah pandangan mata, kemudian otak kita mengirimkan pesan ke hati. Selanjutnya hati dan otak kita bekerja sama untuk membangkitkan hasrat untuk memiliki. Apakah benar begitu adanya ? Entahlah…saya juga tidak yakin. Tapi yang pasti begitulah saya ketika jatuh cinta pada pacar saya dulu yang sekarang sudah menjadi istri saya. Dari pandangan mata saya dalam sebuah kelas katakesasi Sidhi di gereja. Wajah dan mata indah bola ping-pongnya membuat mata saya berhenti berkedip sejenak. Apalagi ketika saat itu saya ditugaskan sebagai ketua kelas katakesasi sidhi dan dia sebagai sekretarisnya. Maka terjadilah “affair” antara Ketua dan sekreataris pada saaat itu. Kami berangkat dan pulang katakesasi bersama,. Terkadang sehabis katakesasi, kami pergi “kencan” yakni mampir untuk cari makan malam bersama. Dari situlah tumbuh benih-benih cinta yang pada akhirnya membawa saya dan dia kepada kehidupan berumah tangga.
Mungkin masing-masing orang memiliki proses jatuh cinta yang berbeda dengan saya. Ada seorang teman yang jatuh cinta pada pasangannya diawali dengan rasa iba dan kasihan. Karena biasa menunjukkan perhatian dan kasih saying, akhirnya cinta bersemi. Namun ada pula yang mengawali proses jatuh cinta karena sebuah proses bisnis. Diawali dengan sebuah kerjasama dagang, namun karena asset yang semakin besar akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Aset tetap terjaga, relationship menjadi lebih berkualitas dari seorang partner bisnis menjadi sepasang suami istri.
Apakah cinta selalu membawa kebahagiaan bagi kita ? Maybe Yes…Maybe No. Tergantung bagaimana kita merawat cinta itu. Dan mengarahkan komitment kita bersama agar cinta yang sudah bersemi terus mekar dan harum semerbak. Tidak ada cinta yang terus mekar dan bertumbuh tanpa ada upaya yang serius dari sebuah pasangan. Cinta hanya bisa bersemi ketika masing-masing pasangan mau berkomitmen untuk mengendalikan egoisme pribadinya masing-masing dan menaruhnya didalam sebuah komitmen kebersamaan atas nama cinta. Selama egoisme tak terkendalikan, maka dapat dipastikan bahwa cinta itu hanyalah milih salah seorang saja, bukan milik bersama.
Nah, itu cinta kita kepada manusia yang menjadi pasangan hidup kita. Bagaimanakah cinta kita kepada Tuhan? Apakah anda pernah merasa jatuh cinta kepada Tuhan? Kalau anda pernah merasakan jatuh cinta kepada Tuhan, apakah rasanya juga sama seperti tahi kucing rasa coklat ? Apakah berjuta rasanya serta siang malam terbayang-bayang selalu? Kalau pertanyaan ini susah untuk dijawab, mungkin pertanyaan ini akan kita permudah.Pernahkah anda “berkencan” dengan Tuhan ?
Kencan dengan Tuhan tentu memiliki berbagai macam tafsir. Bisa melalui doa,pujian,persekutuan, pelayanan dan sebagainya. Namun bagi saya, inti berkencan dengan Tuhan adalah sebuah situasi dimana kita memiliki keakraban spiritualitas denganTuhan. Soal wujudnyata nya, masing-masing orang bisa berbeda-beda. Ada yang bekencan dengan Tuhan melalui gitar dan pujian memuliakan Tuhan. Ada yang berkencan dengan Tuhan dengan berdoa. Dan masih banyak lagi cara berkencan dengan Tuhan. Sekali lagi masing-masing orang berbeda cara. Mana yang lebih baik diantara berbagai cara tersebut ? Apa keuntungan berkencan dengan Tuhan ? Saya hanya bisa menjawab, bahwa yang tahu jawabannya adalah orang yang hidupnya selalu nampak damai dan sukacita walau harga BBM sebentar lagi naik. Orang yang selalu bisa tersenyum walau memiliki banyak persoalan kehidupan dunia. ORang yang selalu bisa membagi berkat kepada sesama dan menjadi saluran berkat. Karena mereka bisa mendapatkan semua itu karena intimnya mereka dengan Tuhan dan berkualitasnya kencan mereka dengan Tuhan.
Teman-teman,
Bagi anda yang hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada sesama manusia (terutama kepada pasangan kita). Namun belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada Tuhan. Saya hanya bisa berkata, cobalah untuk memulai sebuah kencan dengan Tuhan. Rasanya benar-benar seperti permen nano-nano…manis,asem,asin, ramai rasanya. Kadang terasa manis ketika kita sedang menerima berkat Tuhan. Kadang terasa asem, bila doa kita tak terjawab. Kadang terasa asin bila jawaban Tuhan bukan seperti keinginan kita. Kalo sudah begitu situasinya mirip-mirip ketika kita jatuh cinta pada pasangan kita. Ada mesranya, jikalau pas menerima berkat Tuhan. Ada ngambeknya, bila Tuhan serasa tak mendengar doa kita. Ada marahnya bila apa yang diberikanNya tak sesuai dengan keinginan kita. Seru banget !
Yang pasti dan luar biasa adalah, apapun sikap kita kepada Tuhan. Cinta dan kasihNya kepada kita tetap dan abadi. Walau kita sering mendukakanNya, sering menduakanNya namun kasihNya tak pernah berkesudahan. CintaNya kepada kita bukan cinta biasa. Kalau sudah begitu, saya ingin sekali mengatakan kepada anda semua. Rugi besar bila anda tak pernah berkencan dan jatuh cinta kepada Tuhan. Jadi…selamat jatuh cinta kepadaNya
Namun, bila anda sudah mencoba dan merasakan indahnya jatuh cinta kepadaNya. Jangan Sungkan untuk share dengan saya… Supaya saya bisa mengatakan,”Aku makin cinta kepadaMu…Tuhan”
Surabaya, 21 Maret 2012
Inspired by pengirim renungan pagi “kencan dengan Tuhan”

Senin, Maret 19, 2012

Tombol Escape dan Tombol Power


Saya belajar komputer mulai ketika saya kelas 2 SMP. Waktu itu saya dibelikan orang tua saya satu unit computer bekas type XT. Belum seperti computer jaman sekarang tentunya. Kala itu di butuhkan sebuah disket besar untuk melakukan “booting” atau proses menyalakan komputer. Apalagi programnya, seingat saya saat itu yang tercanggih adalah WS (Wordstar) dan Lotus. Belum ada Microsoft office milik windows ataupun open office milik linuk. Memang, Komputer beserta perangkatnya berkembang pesat dari sejak awal di munculkan sampai terkini. Terutama sejak era informasi seperti sekarang ini. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi dan semakin waktu tentu semakin canggih.

Namun ada sesuatu hal yang tak pernah berubah. Kalaupun berubah tidak terlalu significant menurut saya, yakni “keyboard” computer. Dari susunan hurufnya, sampai bentuk keyboard selalu sama. Demikian juga dengan tombol-tombolnya, nyaris sama ! Yang tak berubah lainnya adalah fungsi tombol pada pada CPU nya yakni tombol power dan tombol restart. Tombol power berfungsi untuk mengaktifkan, sedangkan tombol restart untuk melakukan re-boot. Bahkan,akhir-akhir ini tombol power dan restart dijadikan satu tombol, khususnya untuk CPU terbaru. Anda yang biasa mengoperasikan komputer tentu tahu betul tentang ini.

Sejujurnya saya tertarik dengan dua tombol utama yakni tombol escape dan tombol power. Menurut fungsinya, Tombol escape digunakan untuk “kondisi darurat”. Bila computer ngadat, tombol ini ditekan untuk keluar dari kondisi ngadat atau yang biasa orang sebut “hang”. Sedangkan Tombol power di pencet untuk mengkatifkan komputer dan membuat komputer mampu melakukan segala sesuatu dengan begitu hebatnya.

Secara pribadi saya punya tombol escape. Apalagi ketika saya merasa sedang “hang”. Yakni sebuah kegiatan “memotret”. Entah mengapa saya begitu “keracunan dan kecanduan” untuk kegiatan yang satu ini. Ketika penat melanda, kamera terasa menjadi sebuah tombol escape yang sempurna buat saya. Apalagi ketika dengan kamera itu saya mendapatkan object foto yang menarik dan saya melakukan kegiatan olah digital untuk menyempurnakan tampilan foto. Saya betah berjam-jam untuk melakukan itu didepan komputer. Setelah itu semua selesai, saya bisa tidur nyenyak !

Teman/sahabat saya lain lagi gayanya. Dia masih “single” atau belum menikah. Sepengetahuan saya dia belum punya pacar. Namun sepengetahuan saya juga, saat ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Bahkan ini cinta pertamanya (sekali lagi kalo saya tidak salah). Nah, teman saya ini punya tombol power didalam kehidupannya. Tombol itu “terpencet” otomatis ketika dan setelah dia bertemu dengan sang pujaan hatinya. Biasanya itu terjadi ketika libur akhir pekan. Kalo dia sudah bertemu dengan gadis yang sedang dicintainya. Dia merasakan hidup yang penuh warna dan penuh semangat. Apapun akan mampu dia laksanakan, bahkan bersepeda dari luar Surabaya menuju kota Surabaya sekalipun. Asal dia sudah bertemu dengan sang pujaan hati maka terasa bahwa tombol power itu…terpencet...otomatis ! Pikiran segar, badanpun bugar.

Apapun namanya, dua tombol ini tentu merupakan tombol ajaib bagi saya dan teman saya. Beda nama dan beda fungsi. Tapi hasilnya satu yakni membangkitkan semangat kehidupan. Waktu memencetnya pun beda, tapi yang saya tahu pasti kalo kedua tombol ini tak terpencet, pasti serasa “kurang darah”. Terasa letih dan lesu dalam menjalani kehidupan…

Malam ini saya bahkan baru menyadari, bahwa sebenarnya Tuhan yang maha kuasa itu adalah sumber tombol escape maupun tombol power sekaligus. Dengan kuasaNya yang ajaib, Tuhan bahkan mengendalikan kedual tombol itu dengan begitu sempurnanya. Sayang, manusia ini sering lupa dengan hal ini. Atau kalau pun tak lupa, mungkin hanya menjadikan Tuhan sebagai tombol escape saja. Artinya disini adalah, Jikalau menghadapi keruwetan hidup, kita buru-buru memencetnya agar segera terbebas dari keruwetan. Tetapi jika sedang bahagia, maka kita lupa bahwa sesungguhnya yang memegang dan memiliki tombol power kita itu adalah DIA.

Teman-teman yang terkasih,

Pasti semua setuju, bahwa Tuhan kita yang sempurna dan baik itu tidaklah pantas bila hanya berperan sebagai tombol escape saja. Sebagai Sang Pencipta, Dia bahkan lebih pantas untuk menjadi tombol power bagi kita. Ketika kita dekat padaNya rasakan kekuatan Allah itu menjadi kekuatan kita. PowerNya menjadi power bagi kita. Bahkan serunya lagi, seperti tombol power dan tombol restart di komputer yang saat ini sudah jadi satu. Maka disaat kita memencet tombol power itu, maka sesungguhnya kita bukan hanya mendapatkan “power”nya saja tetapi juga mendapatkan “way out” nya. Bukan hanya dapat kekuatanNya tetapi juga mendapat “penghiburanNya”

Bahagianya kita menjadi milik Allah. Dia begitu mencintai dan mengasihi kita. KebaikanNya kita rasakan tak berkesudahan. Dan atas perkenanNya kita memiliki jaminan kehidupan yang abadi.

Hanya teman baik saya tadi sering iseng, Pernah dia bilang, Mas...sampeyan jangan keasyikan mencet tombol escape terus lho… Nanti tombol power nya “shut down” otomatis …

Saya langsung menjawab dalam hati, “ Oh tidaaaaak…!!!” Aku tak mau itu terjadi. Dan saya pun sekarang yakin. Setelah anda membaca catatan ini. Pasti dalam hati anda juga akan berkata seperti saya tadi….Hehehe

Rawatlah tombol power itu teman…

dan tetap miliki juga tombol escapemu.

Bijaklah dalam mengkombinasikan keduanya.

Surabaya, 18 Maret 2012

Inspired by pejantan tambun…

Senin, Februari 06, 2012

Sebuah benda bernama DASI


Seorang Pria terihat gagah dan berwibawa dengan sebuah dasi yang dikenakannya. Dia nampak bangga karena tampil perlente dan berwibawa dengan dasi yang digunakannya. Apalagi karena dasi itu dipakainya bekerja sehari-hari didalam sebuah kantor megah, berlantai marmer dan ber AC yang sangat dingin. Lebih bangga lagi, karena untuk berangkat bekerja ke kantor yang megah itu. Ada sebuah mobil mewah beserta pengemudinya yang siap mengantar, dan pria itu duduk di jok belakang dengan santai sambil membaca Koran disepanjang perjalanan.

Di tempat lain, seorang pria nampak berkeringat dan sangat sibuk. Pakaian serta dasi yang dikenakannya terlihat kumal akibat aktifitas yang begitu banyak. Mondar mandir dari bagian belakang sebuah ruangan, menuju bagian tengah ruangan yang didalamnya ada banyak orang-orang yang sedang berdiskusi sambil menikmati makan siang. Pria itu tentu berbeda tugas dengan pria yang saya sebut sebelumnya. Demikian juga dengan dasi yang dikenakannya, sudah pasti berbeda “nasib” dengan dasi yang dikenakan pria yang berkantor megah tadi.

Pria yang pertama adalah seorang PEJABAT. Sedangkan pria yang kedua adalah PELAYAN restoran. Sebuah status yang sangat berbeda.Tetapi bisakah kita membedakan dasi yang mereka pakai sebagai dasi PEJABAT dan dasi PELAYAN ? Rasanya tidak mungkin, karena dasi adalah dasi. Dan menjadi hak siapa saja untuk mengenakannya, baik bagi seorang pelayan maupun seorang pejabat. Bahkan sering kita dengar, Penjahat Berdasi…Sungguh luar biasa peminat benda bernama dasi ini….

Diawal tugas saya menjadi seorang sales, saya adalah salah satu sales yang paling rajin memakai dasi. Bagi saya, dasi adalah sebuah benda sacral yang harus dipakai dalam setiap kegiatan dinas saya. Karenanya dalam setiap kunjungan ke pelanggan, ataupun pertemuan bisnis dengan pelanggan, saya selalu mengenakan dasi. Mungkin hal ini karena “doktrin” seorang sales senior saya yang kemana-mana selalu berdasi. Hobinya berdasi itu sudah mendarah daging. Sampai senangnya, dia bercerita bagaimana dia selalu menggunakan dasi dalam setiap tugas “sales”nya. Tak peduli naik bus kota, sepeda motor sampai jalan kaki sekalipun, dasi itu selalu setia menemaninya. Saya jadi teringat bagaimana saya mengawali tugas sebagai seorang sales di awal-awal saya bekerja. Waktu itu saya berangkat dari kantor saya di daerah jalan bongkaran Surabaya dengan diantar sebuah mobil kantor. Sesampainya di daerah kembang jepun, saya bersama tim sales yang lain harus door to door untu memasarkan product yang saya jual. Dasi yang saya pakai sebenarnya membuat saya tidak merasa nyaman. Karena sejujurnya bagi saya, dasi itu hanya pantas di pakai oleh orang-orang top yang bekerja dan berposisi sebagai top management juga. Namun karena berdasi itu diminta oleh kantor dimana saya bekerja, saya terpaksa setia memakainya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan memakai dasi itu semakin mendarah daging. Apalagi ketika saya harus bertugas ke Jakarta untuk branches meeting bersama rekan-rekan sales cabang di Indonesia ini. Di Jakarta, banyak orang memakai dasi. Tak peduli apa yang menjadi tugas dan jabatan mereka. Dalam sebuah kesempatan makan siang bersama di sebuah restoran papan atas, saya sempat tersenyum geli karena bukan hanya kami yang berdasi, tetapi juga para pelayan restoran itu pun juga berdasi. Nyaris tak berbeda dengan kami. Nyaris tak ada bedanya antara pelayan dan yang dilayaninya.

Lantas dimana kesakralan sebuah dasi ?

Pertanyaan itu sesungguhnya tak pernah terjawab oleh saya. Apalagi sejak 12 tahun lalu saya pun harus selalu berdasi ketika pergi ke gereja di hari minggu. Selama 12 tahun itu pula saya tak pernah berhenti bertanya, kenapa saya harus selalu pakai dasi ketika melayani jemaat. Sebagai anggota majelis jemaat, memang dasi adalah sebuah kesepakatan bersama yang harus selalu digunakan dalam setiap pelayanan ibadah. Namun terus terang yang menjadi keraguan saya adalah, menjadi seorang anggota majelis jemaat itu sesungguhnya adalah menjadi seorang PEJABAT GEREJAWI sekaligus menjadi PELAYAN JEMAAT. Coba bayangkan, bagaimana bisa kita bersikap seperti itu sekaligus ? Sebagai PEJABAT dan PELAYAN. Sebuah Subject yang sangat berbeda status sosialnya. Tak perlu saya jelaskan bedanya, saya percaya anda semua tahu apa bedanya antara PEJABAT dan PELAYAN. Tugas sebagai pejabat gerejawi pun berbeda dengan tugas sebagai pelayan jemaat. Bedanya tak tanggung-tanggung jauhnya, seperti bumi dengan langit. Sebagai pejabat gerejawi kami dituntut untuk menjadi teladan dalam perkataan,perbuatan dan tentu saja kehidupan iman. Sebagai pelayan kami dituntut untuk melayani siapa saja yang menjadi jemaat beserta segala keperluannya, terutama berkaitan dengan pembinaan iman. Menjalankan kedua tugas itupun, harus selalu ada dasi yang menemani saya.

Saya pernah kuatir, jangan-jangan karena terlena pakai dasi ini, saya lebih condong bersikap sebagai seorang pejabat daripada seorang pelayan. Apalagi bila karena dasi ini sayamenjadi sosok yang dipuja puji orang lain…Wah ngeri !

Saya paham betul, yang ideal adalah tetap berdasi namun berjiwa melayani dengan tulus. Saya sadar seharusnya saya bersikap terus seperti pria kedua tadi. Yang rela dasi nya kumal karena aktifitas pelayanannya. Yang tak pernah bersikap congkak karena memakai dasi karena ingat betul jati dirinya sebagai seorang pelayan. Yang tak pernah malu menyuguhkan hidangan yang membuat orang-orang yang kita layani menjadi puas dan bersukacita. Dasi yang dipakai utk pria kedua itu memang terasa lebih sakral dan bermanfaat.

Dasi tetaplah dasi…Sebuah benda yang biasa saja.

Bukan dia yang membuat kita terlihat terpandang. Bukan karena harga nya yang mahal akhirnya menjadikan kita di hormati orang lain. Namun karena bagaimana kita menghayati dan bertanggungjawab ketika mengenakannya. Dasi adalah perlambang sebuah tugas sebagai PEJABAT sekaligus PELAYAN. Sebuah sikap yang akhir-akhir ini sejujurnya langka di negeri kita. Namun tentu benda bernama dasi itu tak mampu mengelak dan menolak untuk dipakai seorang PEJABAT yang tak punya jiwa melayani. Dasi hanya bisa pasrah. Kitalah yang seharusnya tahu diri…Apalagi ketika kita merasa bahwa dasi ini hanya menambah kemegahan bagi diri kita tanpa mendatangkan manfaat lain bagi hidup kita.


Teman-Temanku sesama pemakai Dasi…

Mari kita jaga kesakralan dasi sebagai sebuah benda yang mencerminkan sosok PEJABAT yang MELAYANI. Karena sesungguhnya itulah yang diharapkan Kristus bagi kita. Jangan pernah ragu untuk “membasuh kaki” sesama kita. Karena DIA pernah melakukan itu untuk murid-muridNya

Jangan pernah capek memakai dasi, apalagi ketika kita masih memakainya dan kita merasa ada banyak hal yang masih belum bisa kita perbuat. Teruslah memakainya, dan biarlah dasi itu menguatkan dan mendampingi kita untuk bersikap sebagai seorang “PEJABAT” yang berjiwa melayani…


Bagi para wanita,

Berbahagialah bila didalam kehidupan anda telah memiliki Pria Berdasi…


Dedicated to the men in neckties

Rabu, Februari 01, 2012

"OUR ENDURO"


Mungkin tidak banyak yang tahu, istilah “Enduro”. Namun bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia “extreme sport” pasti tahu persis tentang istilah ini. Enduro adalah salah satu bentuk olah raga bermotor yang menggunakan medan off road. Dalam olah raga ini yang dinilai adalah ketahanan pengendara dan sekaligus kendaraan bermotor yang dikendarai terhadap tantangan yag dihadapinya. Karena pengertian seperti inilah, PERTAMINA menggunakan ENDURO sebagai salah satu merk minyak pelumas yang dijualnya. Sebagai sebuah merk, diyakinkan kepada konsumen bahwa minya pelumas ini akan membuat ketahanan khusus bagi mesin bermotor yang menggunakannya khususnya terhadap medan-medan berat.

Mengapa malam ini saya ingin menulis tentang “ENDURO ?”. Sejujurnya karena pada hari in saya menghadapi “medan off road” didalam kehidupan saya. Memulai aktifitas dikantor lebih pagi dari biasanya karena hari ini, Presiden Direktur dan Direktur saya hadir dan berkunjung ke Surabaya dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan gedung di kantor tempat saya bekerja. Hari ini pun terpaksa saya berangkat bekerja menggunakan sepeda motor, karena parkir mobil di kantor tidak akan cukup menampung tamu yang hadir dalam acara tersebut. Untung pagi tadi cuaca bersahabat. Dan saya menikmati perjalanan ke kantor lewat jalan baru “MERR IIC” yang membuat perjalanan saya hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk jarak tempuh sepanjang 28 KM.

Sampai kantor langsung sibuk, kebetulan saya ditunjuk menjadi panitia pelaksana yakni sebagai sie perlengkapan dan sie dokumentasi. Sangat cocok untuk ukuran tubuh sebesar saya, menjabat sebagai sie perlengkapan. Dan juga sie dokumentasi yang sesuai dengan kegilaan saya pada fotographi. Semua berjalan sangat lancar dari jam 10.00 sampai dengan jam 13.00 wib. Saya merasakan capek yang luar biasa karena harus berdiri selama hampir 3 jam sambil bertugas merekam kegiatan dalam kamera Canon saya. Selesai acara, masih ada pengarahan direksi untuk staff terkait tantangan di tahun 2012 ini. Pesannya singkat, bekerjalah lebih baik, lebih serius dan lebih maksimal karena tantangan yang kita hadapi tidaklah mudah di Tahun 2012 ini. Selesai acara, didalam ruangan sudah siap menanti acara meeting lanjutan. Kali ini sesuatu yang baru saja dimulai ditahun 2012 ini. Istilahnya keren, “WEB MEETING CONFERENCE FOR SALES FORCE”. Intinya adalah rapat untuk para sales, namun kali ini melibatkan 3 kota yakni Surabaya, Jakarta dan SEOUL-Korea Selatan. Saya sebenarnya sudah agak terbiasa mengikuti pola meeting dengan Head Office Principal saya di Seoul. Namun kali ini meeting yang dilakukan sangat detail dan berfokus pada pengingkatan kinerja sales force. Banyak hal disampaikan, terutama terkait target Principal yang dibebankan kepada kami. Masih belum jauh berbeda dari tahun kemarin, hanya sekitar 2000 Teus (ekuivalen dengan container size 20’) per bulan. Namun yang menjadikan Kegalauan adalah diluncurkanya sebuah program baru berjudul SFA (sales force automation). Dalam program ini kami harus menjadwal kunjungan kami kepada target customer secara detail setiap hari. Kapan rencananya, dan berapa lama durasi nya, sampai apa yang akan dibicarakan sekaligus berapa target goal nya. Saya sendiri tak pernah menduga akan sedetail ini laporan yang diminta. Yang lebih membuat galau adalah penilaian nantinya bukan hanya kepada Tim Sales, namun juga bersifat target personal. Saya melirik 2 orang junior saya, yang mukanya langsung pucat pasi mendengar paparan dari Head Office. Singkat cerita, meeting selesai jam 17.00 wib dan akan dilanjutkan besok pagi jam 09.00 wib.

Setelah segala pekerjaan berkaitan laporan dan analisa selesai dikirimkan, saya segera berkemas dan pulang. Langit terlihat mendung, mungkin solider terhadap hati kedua junior sales saya sore itu. Asyiknya lagi, baru 500 meter keluar dari kantor, langit mendung itu berubah menjadi hujan yang cukup deras. Dan saya makin “merasa asyik” karena terpaksa merasakan basah dan dingin berkendara sepeda motor bersama ratusan pengendara sepeda motor yang lainnya. Sejujurnya saya hanya ingin segera pulang sore tadi. Namun saya teringat pesan mesra istri saya lewat blackberry messenger ,” Papah sayang xixixixix kalo gk capek, gk repot dan gk habis…gk kehabisan…aku pengen garang asemya pak Seger” Pria mana yang tahan terhadap rayuan seperti itu. Atas nama cinta, saya arahkan perjalanan pulang saya melewati depot sate pak seger di Kertajaya. Dingin semakin menusuk badan, celana ini sudah basah. Untung garangasem itu masih ada. Saya membelikan satu untuknya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumah.

Saya masih merasakan beratnya beban yang harus dipikul dalam tugas dan tanggungjawab dikantor. Masih terbayang terus senyum galau dua junior sales saya. Ada kekuatiran juga dalam hati saya, apakah saya bisa mengemban misi yang diberikan dan target yang ditetapkan. Tak terasa bibir saya mulai terbuka, dan keluarlah sebait syair lagu Kidung Jemaat 372, “ Pikulah salibmu saja…pikul terus….Lihatlah mahkota Raja, Agung Kudus” Lagu ini tak terasa terucap dari bibir saya. Dan menghangatkan tubuh serta menenangkan pikiran saya. Sore itu walau dengan basah kuyup saya putuskan mampir ke rumah Ibu di nginden. Hanya melihat senyumnya saya, mungkin saya akan terasa tenang. Dan memang seperti itu yang saya rasakan ketika berjumpa beliau. Sampai rumah, pukul 18.30 wib saya di sambut kedua belahan jiwa saya. Aura yang kecil menyapa saya sambil mengangkat tangan,” Hallo Papah…selamat pagi” Saya tertawa habis, melihat kepolosannya yang menyapa saya “selamat pagi” padahal hari sudah gelap.

Terasa hangat jiwa saya, terasa ringan beban saya melihat senyumnya.

Saya tahu, tak ada kehidupan yang mudah sekarang ini. Semua kehidupan serasa medan off road yang harus kita jalani dengan ketangguhan batin dan mental kita. Tak terbayang betapa beratnya medan off road yang harus dijalani anak-anak kita kelak, karena sekarang aja sudah demikian beratnya. Mungkin sejak sekrang kita harus menyiapkan mental yang teguh bagi anak-anak kita, agar bertahan dalam “medan off road” kehidupan ini. Saya pun teringat pesan Pak Dahlan Iskan (mantan DIRUT PLN) yang sekarang menjadi Menang BUMN, yakni “ BERHENTILAH MENGELUH dan KERJA…KERJA…DAN KERJA”. Mungkin ini hampir sama dengan apa yang menjadi pesan Tuhan Yesus bagi kita, “Pikulah Kuk yang kupasang, karena bebanku enak dan ringan (Matius 11 : 30)”

Teman-Teman khususnya yang masih muda,

Saya bukan hanya pengen curhat lewat tulisan ini. Tetapi saya benar-benar ingin berbagi bahwa sekarang tak ada yang merasakan bahwa hidup itu mudah. Namun apapun yang kita hadapi saat ini, mari berpikir positif bahwa masih ada Tuhan yang baik dan sayang kepada kita. Masih ada cinta dan kehangatan keluarga kita. Masih ada teman-teman yang menjadi penolong dalam kehidupan kita. Seberat apapun “medan off road” yang ada, mari kita tunjukan ketangguhan kita. Mari kita nikmati goncangannya,hentakannya dan sensasinya. Tetaplah focus agar kita mampu melewatinya. Lakukan yang terbaik agar kita mendapati arti hidup yang berarti. Kita bisa melewatinya, bukan karena kemampuan kita, namun karena Pertolongan dan TuntutanNya. Selamat berjuang…maju terus untuk kehidupan yang lebih baik.

Tuhan memberkati….

Dedicated for my junior sales in my office…

Sabtu, Januari 28, 2012

Jurus SWOT (Urusan Hati dan Cinta)


Jurus SWOT (Urusan Hati dan Cinta)

Dikalangan pelaku bisnis, seringkali kita mendengar Analisa SWOT. Sebuah
metode yang digunakan untuk mengukur kekuatan sekaligus kekurangan sebuah product
dan kemudian mencari peluang serta mengatasi hambatannya.
SWOT adalah singkatan dari Strength, Weakness, Opportunities dan Threat
Para pebisinis mengatakan SWOT sebagai metode "strategic planning" untuk mencapai
tujuan yang maksimal dalam berbisnis.
Saat ini memang terbukti, bahwa kemampuan pebisnis melakukan analisa SWOT menjadi
jurus penting dalam kesuksesan bisnisnya.

Semalam saya "sharring" dengan seorang sahabat lewat blackberry messenger (bbm).
Dari perbincangan kami, tak terduga bahwa "urusan hati" pun, bisa memakai Jurus SWOT ini.
Tujuannya sama, yakni agar kita mampu meraih harapan secara maksimal dengan langkah yang tepat
dan effektif.
Memang, Sahabat saya yang satu ini sedang belajar, bagaimana rasanya cinta itu. Yang menurut
Oma Titiek Puspa serasa berjuta rasanya...Tadi malam, dia serius menyimak serta belajar
tentang jurus SWOT ini. Proses negosiasi antara saya dan dia untuk belajar ini cukup panjang dan menarik.
Namun ketika "deal" terjadi diantara kami, maka dimulailah pelajaran tentang "jurus SWOT" ini...

Dalam Urusan Hati, Jurus SWOT adalah :

S = Sentuhan
Saya perlu menegaskan kepada sahabat saya bahwa "S" yang pertama ini sangat penting
ketika kita melakukan pendekatan kepada wanita yang menjadi "target" kita. Sempat dia terkaget-kaget
dan berpikir jorok. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan laki-laki, bahwa segala sesuatu di konotasikan
ke arah "begituan". Dia langsung merespon, "wah, masa baru kenal langsung sentuhan mas ? wong aku
ndhulit wae ora wani kok !"
Saya menjawab, sentuhan disini adalah sentuhan hati. Ini adalah jurus pertama.
Seorang wanita akan tertarik kepada seorang pria yang mampu menyentuh hati nya dengan sempurna.
Sentuhan itu bisa lewat sikap,tutur kata dan perbuatan kita kepada dia. Seberapa sempurna kita mampu
menyentuh hati nya, maka sebesar itu cinta yang akan kita dapatkan darinya.
Namun cara kita melakukan sentuhan itu harus bijak dan benar. Agar sentuhan itu tidak menjadi bumerang
bagi kita. Sudah banyak yang bilang bahwa laki-laki adalah buaya darat. Tukang gombal yang banyak maunya.
Nah tentu anggapan ini harus dibuktikan dengan sentuhan hati yang disertai ketulusan dan keseriusan.
Bagaimanapun wanita adalah rekan yang sepadan bagi pria. Yang diciptakan dari tulang rusuk pria, dimana
tulang rusuk itu dekat di hati kita. Begitulah wanita yang kita cintai, harus ada dan dekat di hati kita untuk
di cintai dan di sayangi.

W = Warna
Jurus kedua adalah "W" yakni warna. Bagaimana kita mampu mewarnai kehidupan wanita yang kita
jadikan target hati kita. Wanita adalah makhluk Tuhan yang paling sexy menurut mbak Mulan Jamela.
Tapi bagi saya wanita adalah mahkluh Tuhan yang paling sensitif dan peka. Hatinya penuh kelembutan
dan sangat mudah terpengaruh oleh kekerasan dunia ini. Ketika hatinya sedang berwarna "merah"
karena amarah, penting bagi kita untuk mewarnai nya menjadi "pink" dengan warna putih yang kita berikan.
Sehingga amarah itu berubah menjadi senyuman. Salah memberikan warna dalam kehidupannya, pastilah
akan menjadikan bumerang. Namun bila kita juga tak pernah memberikan warna sama sekali, tentulah
diri kita tidak akan menarik buat dia. Bagaimana memberikan warna yang tepat, tentu harus diselaraskan
dengan situasi yang terjadi saat itu. Kecerdikan dan kepekaan kita lah yang akan menentukan hasil yang baik.

O = Orang Tua
Wanita adalah sosok yang "ngabekti" pada orang tua. Walau mungkin kenyataannya tidak semua wanita
manut pada orang tua, terutama berkaitan dengan pilihan orang tua pada sosok teman hidupnya.
Namun yang pasti adalah apa yang menjadi restu orang tua akan menjadi sebuah spirit dan dorongan
seorang wanita. Maka yang harus dilakukan juga adalah bagaimana membuat orang tua sang wanita
itu terlihat respect kepada kita.
Jurus ini sangat ampuh, terutama bila kita menghadapi target yang bersikap jinak-jinak merpati terhadap kita.
Dorongan,saran dan pandangan orang tua tentu akan memudahkan jalan kita untuk memiliki sang target.
Tampilah sebagai sosok yang santun, hormat dan sempurna dihadapan calon mertua.

T = Teguh
Tidak mudah mendapatkan pasangan yang bagi kita adalah cinta sejati
Apalagi bila kita menghadapi pesaing yang cukup banyak karena target kita
bagaikan bunga mawar yang selalu dikelilingi kumbang
Mental yang teguh, keyakinan diri yang tinggi serta perasaan yang super sabar
adalah modal utama
Perjuangan ini tentu tidak mudah. Keteguhan tidak bisa di ciptakan dalam hitungan
jam ataupun hari. Keteguhan ini mutlak muncul dari keseriusan kita dalam mengemban misi.
Namun percayalah, karena keteguhan ini pula lah, wanita yang kita dambakan akan menyerahkan
cintanya kepada kita.

Singkat cerita, malam semakin larut. Dan pelajaran tentang jurus SWOT ini berakhir sudah.
Saya bisa tidur nyenyak tadi malam, karena sudah pasti minggu depan saya akan irit dalam pengeluaran.
Sebagai "ongkos" pelajaran malam ini, sahabat saya berjanji akan traktir makan siang sebanyak 4 kali.
Kenapa 4 kali, masing-masing huruf dalam jurus SWOT itu sudah kami sepakati bersama untuk
satu huruf sama dengan satu kali makan siang.
Terbayang sudah makan gratis 4 kali berturut-turut di minggu depan. Saya sudah request kepadanya
untuk makan : "Bakso Pirngadi" di hari pertama. Hari kedua di Kantin BCA veteran. Sementara
hari ketiga "rujak Cingur Taman apsari" dan hari keempat di Bebek Kepanjen.
Pelajaran singkat kepada dia malam ini mendatangkan kebahagian bagi saya. namun bagi sahabat
saya tentu bukan hanya kebahagian, tetapi juga kegalauan... sudah pasti dia berhitung berapa duit
yang harus dialokasikan minggu depan buat traktiran makan siang ini.
Dan pagi ini, dalam akun Facebooknya dia menulis status " demi perut otakpun bisa mendadak encer...#
dedicated for Bli Oka P "

Ya saya terpaksa mengaku kepada sahabat saya itu, bahwa saya pun baru menciptakan jurus SWOT
malam itu ketika sedang "chatting" dengan dengan dia. Jurus ini spontan ada dikepala saya malam itu.
Dan sekarang saya bagi kepada anda semuanya...

Sahabatku...
Thanks sudah menjadi "korbanku" tadi malam. Dan maaf kl kamu terpaksa "kepangan omongane sales"
Sampai ketemu minggu depan di makan siang bersamaku...

God bless you...

Dedicatef for my best friend from "bean town"...

Senin, November 07, 2011

Mas Aan dan Positif Thinking-nya


Masih tentang Mas Aan, yang saat ini masih terbaring di RS Graha Amerta Surabaya. Rabu, 2 November 2011 yang lalu, dia menjalani operasi yang ke-2. Operasi kali ini memakan waktu hampir 12 jam, sama seperti ketika operasi pertama berlangsung. Tim Dokter bekerja untuk menyambung “tendon”” ketiga jari mas Aan dan sekaligus memperbaiki jari telunjuk. Khusus untuk jari telunjuk ini memang masih jauh dari harapan Tim Dokter. Bahkan Dokter Heri yang melakukan operasi mengatakan, “Yah…Kita berdoa khusus untuk Jari Telunjuknya agar sesuai dengan harapan kita”

Di rumah Ibu saya, Rabu malam itu saya bersama Pdt Suko Tiyarno Ch. M.Th yang sedang berada di Surabaya dan Pak sribusono mengobrol santai. Kami mengobrol sambil menantikan upadate informasi dari Mbak Upik yang saat itu berada di RS Graha Amerta. Malam itu kami lewati sambil menikmati kopi hangat beserta pisang goren, rasanya nikmat sekali.

Pukul 20.25 wib ponsel saya berbunyi, sebuah pesan pendek telah masuk. Saya pun segera membacanya. Begini bunyi sms tersebut ” Mas Oka m aan dah slsi oprasi. Ml mini dia tdr d recovery room. Besk br kembali k kamar. Tlg britau om jat”. Ya SMS itu dari ponsel mas aan yang dikirim oleh mbak Upik. Rencana kami untuk menjenguk mas Aan malam itu terpaksa batal karena tak mungkin menemui Mas Aan di Ruang Pemulihan. Dia pasti belum tersadar dan masih dalam pengaruh obat bius.

Ingatan saya mundur ke belakang. Teringat hari senin malam tanggal 31 Oktober 2011, saya dan pak sribusono menengok Mas Aan di RS Graha Amerta. Saat itu dia ceria sekali dan sangat bersemangat. Dia sempat bercerita bagaimana kecelakaan kerja itu bisa terjadi. Yang menarik bagi saya adalah ketika kecelakaan kerja itu terjadi, yang ada dipikirannya hanyalah rasa pasrah pada rencana dan karya Tuhan. Dia tahu betul bahwa jari itu sangat vital bagi dia. Karena dengan jari-jari itu dia biasa mengekspresikan dirinya melalui music. Dalam hatinya, sempat dia berkata, “Tuhan saya berserah padaMu” . Kala itu mas Aan bercerita dengan optimis bahwa dia masih tetap akan bisa bermain music dengan segala keterbatasan yang ada. “ Seandainya jari saya benar-benar hilang, saya yakin tetap akan bisa bermain music”. Kemudian dia melanjutkan,” Apalagi saat ini saya diberikan Jari-jari yang sudah bisa tersambung kembali, pasti saya lebih bersyukur” . Sejujurnya saya terhenyak dan kagum dengan sikap “Positive Thinking” nya. Saat itu saya melihat sebuah keteladanan tentang “POSITIVE THINGKING”. Sikap “positif thinking” akan membuat diri kita mampu untuk terus berkreasi. Sementara sikap “negative thinking”, hanya akan membawa diri kita pada sebuah reaksi negative.

Sikap “positive thingking” ini yang menurut saya jarang dimiliki oleh orang-orang disekitar kita saat ini. Kecurigaan, ketidakpercayaan sebenarnya diawali oleh rasa “negative thingking” yang tak terkendali. Akibatnya, yang timbul adalah reaksi-reaksi negative yang merugikan karena tidak malah menambah masalah yang baru. Betapa banyak energy yang harus kita keluarkan dalam perdebatan-perdebatan yang sengit. Padahal semuanya tidak pernah menghasilkan sebuah kebaikan karena terlalu banyak energy negative yang terlibat. Kadang kita menilai seseorang dengan pandangan sinis karena kita terlalu banyak berpikir negative tentangnya. Sebagai akibatnya, saluran komunikasipun buntu. Dan pada akhirnya terciptalah sebuah permusuhan dengan sesama.

Dalam sebuah kesempatan di hari kamis malam tanggal 3 November 2011, saya kembali menjenguk mas Aan. Kali ini saya ditemani istri saya dan sahabat sepelayanan saya, pak Sribusono. Di RS Graha Amerta kami bertemu mas awang dan istrinya. Malam itu Mas Aan terlihat menderita akibat nyeri yang tak tertahankan. Saya sempat menghadap suster untuk menyampaikan keluhan mas Aan sekaligus menanyakan obat nyeri yang akan disuntikkan. Dari suster jaga saya mendapatkan informasi bahwa mereka sedang berkoordinasi dengan Dr Ita sebagai Dokter Anastesi. Saat itu suster meminta sabar karena obat sedang diambil dari Apotik di lantai bawah. Saya pun kembali ke kamar di mana maa Aan berada. Dia terus merintih,menangis dan menahan nyeri yang luar biasa. Dari bibir nya terdengar suara,”Gusti…nyuwun tulung”. Saya tahu dan bisa merasakan betapa nyerinya saat itu. Beberapa tahun yang lalu saya menengok saudara sepupu saya yang jari kelingkingnya terputus akibat mercon. Saat itu dia berteriak-teriak kesakitan akibat operasi yang dilakukan pada jari kelingkingnya. Itu hanya sebuah jari. Dan mas Aan ini adalah operasi dengan 4 jari ! Pasti sudah terbayangkan betapa sakit dan nyerinya. Yang saya bersyukur adalah mas Aan mengaduh dan menjerit hanya kepada Tuhan. Dia tahu betul hanya Tuhan yang mampu mengangkat rasa nyerinya. Saya pun mengajaknya berdoa. Saya hanya memohon kepada DIA,” Oh…Tuhan angkat rasa nyeri itu. Berikan anakmu ini kekuatan dan keteguhan. Berikan juga kesabaran…” Saat itu saya lupa untuk memohon kepada Tuhan agar obay anti nyeri nya segera datang. Tetapi Tuhan tahu bahwa saya memang pelupa. Dan ternyata Dia tetap memberikannya walau tanpa saya memintanya dalam doa. Tidak lebih dari 2 menit, obat anti nyeri itu datang. Dan salah seorang Suster yang paling senior kemudian menyuntikan obat anti nyeri itu. Tak lama kemudian, mas Aan pun tenang. Dan obat anti nyeri itu bekerja dengan baik. Oh…Tuhan Kau sungguh luar biasa…

Saya segera pamit setelah mas Aan mulai tenang. Karena menurut saya mas aan harus segera beristirahat. Dia perlu tidur yang nyaman agar tenaganya segera pulih. Demikian juga dengan mbak upik. Tidak mudah menemani dan merawat orang yang sedang sakit apalagi di rumah sakit. Dia pun perlu istirahat yang cukup agar kondisi tubuhnya terjaga. Saya lega setelah pagi harinya mas Aan menulis di status Facebook. Bahwa malam itu dia dan mbak upik tidur sangat nyenyak. Tenaganya pulih dan nyeri itupun berangsur-angsur hilang. Tuhan berkarya di saat yang tepat. Betapa luarbiasanya Tuhan kita dan betapa besarnya kasihNya kepada kita.

Mas Aan

Saya belajar dari sampeyan bagaiamana berserah dan tetap berpikir positip. Dan terbukti bahwa Tuhan memang tidak pernah menginggalkan anak-anakNya. Dia selalu berada disisi kita apapun yang sedang kita hadapi. Sayapun ingin mengajak semua orang untuk terus berpikir dan bersikap positif bagi sampeyan. Apapun yang terjadi kelak, saya tidak terlalu mau larut dalam kekuatiran bahwa sampeyan tak bisa bermain music lagi. Saya setuju pada keyakinan sampeyan, bahwa selalu ada cara bila kita menjalani bersama Tuhan. Seandainya sampeyan juga tidak bisa memainkan music seindah dulu lagi, saya yakin bahwa sampeyan tetap akan mampu memainkan sebuah “symphoni” yang indah lewat suara dan arransemen lagu-lagumu. Dan percayalah, bagi saya pribadi sampeyan adalah salah satu asset jemaat yang terus akan kita butuhkan. Ini sudah di amin’i oleh banyak orang. Kiprah sampeyan tak akan terhentikan oleh kejadian ini. Bahkan saya percaya 100 % bahwa sampeyan akan jauh lebih hebat dan dipakai Tuhan dengan segenap talenta yang ada. Bagi saya serta semua sahabat yang mengasihimu, sampeyan tetap musikus rohani yang handal…!

Mas Aan,

Tiga minggu yang lalu adalah moment yang indah bagi saya. Ada waktu bagi saya untuk menyanyikan lagu “tetap Setia” ketika ibadah minggu telah selesai. Sampeyan memainkan piano dengan begitu indah. Setelah 3 minggu yang lalu kita menyanyikan lagu itu, mari sekarang kita wujudkan dalam hidup kita. Mari kita tetap menjaga kesetiaan kita kepada kehendak Tuhan. Karena itu adalah yang terbaik bagi kita.

Sekarang, sejuta pengharapan dan doa terus terpanjatkan. Selusin komitmen ada diantara kami. Salah satunya adalah kami tetap akan menjadi rekan sekerja mu di ladang Tuhan. Persekutuan ini akan terus terbina dengan dasar kasih yang kita miliki. Dan biarlah Tuhan yang menjadi pemimpin bagi kita semua. Kami senantisa merindukan kehadiran sampeyan di tengah-tengah persekutuan. Kelak, wartakanlah kepada semua orang Betapa BaikNya Tuhan kita…dan biarlah mereka semua belajar dari pengalaman hidupmu bersama Dia

Sekali lagi, cepatlah pulih mas... Dan mari bersama-sama kita bangun persekutuan yang indah didalam kasih Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja kita.

Gusti tansah mberkahimu….

Surabaya, 05 November 2011

Johanes Oka Purwanto

Dedicated for Mas Aan.

Selasa, November 01, 2011

DIPANGGIL MENJADI PELAYAN


BACAAN : 1. IKORINTUS 6 : 13-15, 17-20
2. YOHANES 1 : 35 – 42

Dua atau tiga hari belakangan ini, media ramai memberitakan bagaimana Presiden RI melakukan proses reshulfe kabinet. Beberapa kandidat dipanggil kekediaman prbadi Presiden di Cikeas. Yang dipanggil, setelah menghadap Presiden memberikan keterangan didepan wartawan dengan perasaan bahagia. Yang belum dipanggil, menunggu dengan harap-harap cemas. Dipanggil menjadi pejabat, rupanya begitu membahagiakan.Nah, Bagaimana bila kita dipanggil untuk menjadi pelayan Tuhan ?
Yohanes Pembaptis menunjukkan kepada kedua muridnya, bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Percaya bahwa apa yang dikatakan Yohanes adalah benar adanya, kedua murid dengan sepenuh hati mengikut Yesus. Tidak ada paksaan dan rayuan kepada mereka untuk mengikut Yesus. Namun dengan ketulusan mereka mau mengikut Yesus.
Menjadi pelayan Tuhan sesungguhnya adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan. Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menjadi pelayanNya. Ketika kita menjadi pelayanNya ada banyak tantangan yang mungkin kita hadapi serta cercaan dari orang-orang sekitar kita. Namun yang terindah adalah ketika kita menjadi pelayan Tuhan, sesungguhnya kita memiliki kesempatan untuk berada lebih dekat denganNya. Dan ketika kita lebih dekat denganNya, tentu pengalaman-pengalaman yang luar biasa akan kita rasakan. Terutama pengalaman tentang bagaimana tangan kasihNya memelihara kehidupan kita.
Bukankah rasul Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus? Bila demikian, sepantasnyalah kita juga menyerahkan Tubuh kita untuk menjadi pengikut dan pelayanNya yang setia. Tak perlu ragu, bagaimana upah untuk mengikut dan melayani Tuhan. Ketika kita melakukan itu semua dengan ketulusan dan sukacita, bukankah Dia telah bersabda bahwa “ Hasil jerih payah kita didalam Tuhan, tak akan sia-sia”
“ Menjadi pelayan Tuhan adalah sebuah keberuntungan yang sejati. Terimalah… “