Kamis, Juni 09, 2016
Difficult is not impossible
Kalimat pendek ini "menampar" saya, saat terucap dari mulut seorang wanita yang berusia 30 tahun an namun kini menjabat sebagai direktur operasi sebuah perusahaan asing. Dalam dunia transportasi laut, jabatan direktur operasi biasanya dijabat oleh seorang pria, namun kali ini sosok wanita muda dan energik lah yang memegangnya.
Dia tak pernah kenal menyerah. Halangan baginya hanyalah sebuah tantangan. Dia irit bicara tapi cepat berpikir. Para pria yang menjadi anak buahnya terkadang terlihat kewalahan mengikuti ritme kerjanya. Apalagi jika di tanya, ini sulit atau tidak mungkin?
Seringkali kita menyerah pada sebuah persoalan. Kita kalah karena beranggapan bahwa persoalan ini tidak mungkin di selesaikan. Padahal jika kita tenang, dan kemudian menggunakan akal budi kita sebenarnya persoalan itu hanyalah sulit untuk di selesaikan.
Maka jika kini kita sedang menghadapi persoalan, jangan gampang menyerah. Cobalah untuk mengidentifikasi dahulu. Apakah ini sulit untuk diselesaikan ataukah tidak mungkin untuk di selesaikan. Semoga dengan langkah itu, kita bisa membuat langkah awal yang tepat untuk menyelesaikan sebuah persoalan...
Ingatlah Kawan,
Sulit bukanlah tidak mungkin untuk di selesaikan...
Tuhan menolong dan memberkati kita
Jumat, Mei 13, 2016
Let's Change
Ada sebuah buku yang keren, dan sangat perlu untuk dibaca. Judul
nya “ Let’s change “ atau Ayo Berubah. Penulisnya Rhenaldi Kasali, Guru Besar
Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia. Dia menulis buku ini karena melihat
masyarakat kita "phobia" pada perubahan. Masyarakat kita mudah
bereaksi pada sebuah perubahan. Reaksi yang di tunjukkan cenderung negative dan
bahkan berpotensi menolak. Padahal menurut keyakinannya, berani melakukan
perubahan itu penting. Karena dengan berani merubah hidup maka kita akan
berpeluang memiliki perubahan hidup yang lebih baik.
Manusia suka terjebak pada sebuah area yang sering dikatakan
sebagai Zona Nyaman atau “comfort zone”. Merasa cepat puas, nyaman dan bahkan
enggan beranjak dari sebuah keaadaan yang kadang tanpa disadari keadaan itu
bisa menjadi jebakan kehidupan. Padahal dinamika kehidupan itu berjalan cepat,
dinamis dan keras. Jika kita hidup statis, maka kerasnya kehidupan bisa
mempersuli perjalanan kehidupan kita.
Ajakan untuk berubah juga diserukan Rasul Paulus kepada
Jemaat di Roma. Bahkan Rasul Paulus menyerukan untuk melakukan perubahan secara
mendasar, yakni perubahan akal budi. Kehidupan bangsa Roma yang modern di kala
itu berpotensi menjebak dan membawa Jemaat untuk hidup menjauh dari Tuhan. Seruan
Rasul Paulus adalah peringatan agar Jemaat di Roma tidak hidup dalam arus
duniawi melainkan berubah untuk menjadi lebih baik dan memiliki spirtualitas.
Dengan perubahan akal budi itu maka Jemaat di Roma diharapkan mampu hidup
seturut dengan kehendak Tuhan, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak
baik.
Kini kita pun diajak untuk berani membuat perubahan hidup
agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Memang untuk mewujudkan hidup yang
lebih baik, itu perlu perjuangan. Untuk memperoleh kenikmatan perlu
pengorbanan. Karenanya jangan takut pada perubahan. Siapkan saja mental terbaik
disertai keyakinan bahwa kita mampu berubah karena kita di karuniai akal budi
dan hikmat untuk mewujudkan perubahan hidup. Jika kita mampu berubah untuk
menjadi lebih baik, maka hidup kita juga akan berubah menjadi lebih baik.
Ayo berubah ....!
Awali mulai sekarang......(KPT)
Selasa, Desember 29, 2015
Renungan Malam Natal
Sebuah mobil niaga berwarna hitam, berjalan perlahan
membelah jalanan kota surabaya yang lengang sore tadi. Sepi, bebas macet
akibat libur panjang natal dan tahun baru. Setiap berjumpa dengan abang
becak, tukang tambal ban, tukang sampah mobil itu berhenti. Salah satu
penumpang yang masih sesusia remaja turun dan memberikan nasi bungkus
dan segelas air mineral. Hanya satu kalimat terucap saat memberikan
bungkusan nasi itu," Pak..ini untuk makan nanti malam".
Respon masing-masing penerima berbeda-beda:
1. Ada yang bersikap biasa saja, dengan aura wajah datar.
2. Ada yang menerima dengan senyuman dan ucapan terima kasih.
3. Ada yang menyambut gembira dan berteriak memanggil temannya, seakan dia tak mau menikmati berkat itu sendirian.
4. Ada pula yang menerima dengan mata berkaca-kaca sambil menjawab," terima kasih Tuhan memberkati"
2. Ada yang menerima dengan senyuman dan ucapan terima kasih.
3. Ada yang menyambut gembira dan berteriak memanggil temannya, seakan dia tak mau menikmati berkat itu sendirian.
4. Ada pula yang menerima dengan mata berkaca-kaca sambil menjawab," terima kasih Tuhan memberkati"
Walaupun yang diberikan sama, tetapi respon masing-masing penerima berkat berbeda-beda.
Pribadi yang menerima dengan wajah datar, mungkin hatinya sedang perih, ada banyak masalah dalam hidupnya sehingga ketika sebuah berkat datang, dia menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Pribadi yang menerima dengan senyuman dan ucapan terima kasih, mungkin sudah biasa menerima berkat seperti itu. Sehingga tidak merasa perlu untuk menyikapinya selain dengan senyum dan ucapan terima kasih. Sedangkan Pribadi yang berteriak memanggil temannya sebagai tanda solidaritas sejati. Tidaklah elok menerima berkat sendiri tanpa rasa setiakawan. Lain pula pribadi yang menerima berkat lalu berusaha memberikan berkat dalam ucapan Tuhan memberkati. Mungkin dia punya prinsip, blessed to be blessing. Diberkati untuk menjadi saluran berkat.
Pribadi yang menerima dengan wajah datar, mungkin hatinya sedang perih, ada banyak masalah dalam hidupnya sehingga ketika sebuah berkat datang, dia menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Pribadi yang menerima dengan senyuman dan ucapan terima kasih, mungkin sudah biasa menerima berkat seperti itu. Sehingga tidak merasa perlu untuk menyikapinya selain dengan senyum dan ucapan terima kasih. Sedangkan Pribadi yang berteriak memanggil temannya sebagai tanda solidaritas sejati. Tidaklah elok menerima berkat sendiri tanpa rasa setiakawan. Lain pula pribadi yang menerima berkat lalu berusaha memberikan berkat dalam ucapan Tuhan memberkati. Mungkin dia punya prinsip, blessed to be blessing. Diberkati untuk menjadi saluran berkat.
Semua punya sikap dan cara berbeda saat menerima berkat.
Mungkin juga semua oramg punya sikap dan cara berbeda menyambut natal.
Ada yang biasa saja karena toh natal selalu ada setiap tahun. Ada yang
cuma senyum-senyum karena bingung menggapai makna natal yang
sesungguhnya. Ada yang berusaha bersama keluarga,teman menikmati liburan
natal yang hanya ada setahun sekali. Tapi pasti ada juga yang menikmati
sukacita natal dengan menyalurkan pelbagai berkat Tuhan.
Natal selalu ada di setiap tahun. Demikian pula dengan lagu
malam kudus dan penyalaan lilin. Tapi hendaknya hati kita terus
diberkati untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Berkat natal itu
haruslah dirasakan orang lain terutama yang belum mengenal makna natal
yang sesungguhnya.
Selamat natal kawan,
Blessed to be blessing...
God bless you and your family
Blessed to be blessing...
God bless you and your family
Sabtu, April 25, 2015
Anda layak dapat berkat
Bacaan: Lukas 23 : 26-32 | Nyanyian:
“lalu diletakkan salib itu diatas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikut Yesus” (ay.26B)
Entah mimpi apa simon orang kirene semalam. Saat diperjalanan dia berjumpa Yesus yang sedang terhuyung-huyung memikul salib. Karena kelemahan dan kelelahan, beberapa kali Yesus jatuh dan tersungkur sambil memikul salib. Tentara Romawi yang melihat simon, memaksanya untuk memikul salib, menggantikan Yesus. Salib yang begitu besar lagi berat itu kini berada di pundak simon. Ratusan pasang mata memandangnya, sejarah mencatat namanya. Kondisinya yang lebih bugar saat itu membuatnya lebih kuat untuk memikul salib.
Perjalanan Yesus menuju bukit golgota tidaklah mudah. DIA dicambuk dan dihina bahkan diludahi. Salib yang dipikulNYA adalah lambang kehinaan. Seorang Raja diperlakukan begitu hina dan rendah. Salib itu begitu berat untuk dipikul. Bukan hanya karena besar dan beratnya kayu salib itu sendiri. Tetapi juga bagi psikis Yesus. Serasa hilang sudah kehormatanNYA. Semua cerita hebat tentang Yesus sebelumnya, serasa sirna sudah. Digantikan caci maki dan hinaan bahkan anaiyaya.
Bagaimana perasaan simon saat itu? apakah dia merasakan "ketiban awu anget". Sehingga dia terlibat dan terpaksa merasakan beratnya kayu salib menindih pundaknya. Alkitab memang tidak bercerita secara detail. Bagaimana reaksi simon saat memikul salib itu. Apakah dengan bersungut-sungut ataukah sebaliknya memikulnya dengan senyum keikhlasan. Namun apapun yang menjadi perasaan simon, berkat salib itu dia menjadi lebih dekat dengan Yesus. Dia menjadi bagian dari sejarah. Dia berada dan bersama Yesus didalam kasih setiaNYA. Tanpa salib yang dipikul dipundaknya, belum tentu simon akan berada didekat Yesus dalam sebuah moment puncak yang begitu penting.
Terkadang hidup ini terasa begitu berat. Serasa memikul salib dipundak kita. Pada saat kita merasa berat menjalaninya. Beban itu akan semakin terasa berat jika kita hanya berpikir tentang berat salib itu. Cobalah berpikir lain, bahwa salib itu adalah cara Tuhan untuk membawa kita lebih dekat kepadaNYA dan menikmati berkat KasihNYA. Jangan mengeluh, pikulah saja dengan setia. Rasakan indahnya saat kita berada di dekatNYA. Karena disaat itulah kita akan menikmati berkat kasihNYA. Bukalah hati kita karena disaat itulah, DIA akan berbisik,"anakku...engkau layak dapat berkat"(Oka)
“ibarat sebuah bingkisan, beban itu hanyalah sebuah kertas kado yang membungkus sebuah hadiah yang menawan ”
“lalu diletakkan salib itu diatas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikut Yesus” (ay.26B)
Entah mimpi apa simon orang kirene semalam. Saat diperjalanan dia berjumpa Yesus yang sedang terhuyung-huyung memikul salib. Karena kelemahan dan kelelahan, beberapa kali Yesus jatuh dan tersungkur sambil memikul salib. Tentara Romawi yang melihat simon, memaksanya untuk memikul salib, menggantikan Yesus. Salib yang begitu besar lagi berat itu kini berada di pundak simon. Ratusan pasang mata memandangnya, sejarah mencatat namanya. Kondisinya yang lebih bugar saat itu membuatnya lebih kuat untuk memikul salib.
Perjalanan Yesus menuju bukit golgota tidaklah mudah. DIA dicambuk dan dihina bahkan diludahi. Salib yang dipikulNYA adalah lambang kehinaan. Seorang Raja diperlakukan begitu hina dan rendah. Salib itu begitu berat untuk dipikul. Bukan hanya karena besar dan beratnya kayu salib itu sendiri. Tetapi juga bagi psikis Yesus. Serasa hilang sudah kehormatanNYA. Semua cerita hebat tentang Yesus sebelumnya, serasa sirna sudah. Digantikan caci maki dan hinaan bahkan anaiyaya.
Bagaimana perasaan simon saat itu? apakah dia merasakan "ketiban awu anget". Sehingga dia terlibat dan terpaksa merasakan beratnya kayu salib menindih pundaknya. Alkitab memang tidak bercerita secara detail. Bagaimana reaksi simon saat memikul salib itu. Apakah dengan bersungut-sungut ataukah sebaliknya memikulnya dengan senyum keikhlasan. Namun apapun yang menjadi perasaan simon, berkat salib itu dia menjadi lebih dekat dengan Yesus. Dia menjadi bagian dari sejarah. Dia berada dan bersama Yesus didalam kasih setiaNYA. Tanpa salib yang dipikul dipundaknya, belum tentu simon akan berada didekat Yesus dalam sebuah moment puncak yang begitu penting.
Terkadang hidup ini terasa begitu berat. Serasa memikul salib dipundak kita. Pada saat kita merasa berat menjalaninya. Beban itu akan semakin terasa berat jika kita hanya berpikir tentang berat salib itu. Cobalah berpikir lain, bahwa salib itu adalah cara Tuhan untuk membawa kita lebih dekat kepadaNYA dan menikmati berkat KasihNYA. Jangan mengeluh, pikulah saja dengan setia. Rasakan indahnya saat kita berada di dekatNYA. Karena disaat itulah kita akan menikmati berkat kasihNYA. Bukalah hati kita karena disaat itulah, DIA akan berbisik,"anakku...engkau layak dapat berkat"(Oka)
“ibarat sebuah bingkisan, beban itu hanyalah sebuah kertas kado yang membungkus sebuah hadiah yang menawan ”
Senin, Januari 19, 2015
Natal 2014 ~ Karyawan PT.Samudera Indonesia,Tbk Surabaya
Perayaan
Natal bersama
karyawan PT.
Samudera Indonesia, Tbk
dengan
Warga Jemaat
GKJW Ngantang Malang
Kelahiran Kristus didunia ini,
mengingatkan kami akan kepedulian terhadap sesama. Berkat Tuhan yang kita
terima, seharusnya juga dapat dirasakan oleh sesama kita. Karenanya di tahun
2014 ini kami sepakat menyelenggarakan perayaan natal yang berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya.
Adalah warga jemaat GKJW Ngantang
malang, yang kami pilih sebagai tempat untuk merayakan natal. Gereja yang
berjarak hanya 8 km dari Gunung Kelud ini, pernah merasakan dampak secara
langsung akibat erupsi Gunung Kelud setahun yang lalu. Kehadiran kami di sambut
dengan ketulusan. Kami beribadah bersama dengan tema ibadah “ Let’s do it for
others”. Kami meneladani ajaran Kristus yang tertulis dalam Matius 5 : 39-42
Moment indah yang tak akan
terlupakan. Apalagi setelah ibadah kami berkesempatan refreshing ke waduk
selorejo dan menikmati makan siang Ikan wader dengan menu penutup buah durian
khas malang.
Terima kasih untuk semua pihak yang
mensukseskan kegiatan ini. Let’s do it for others…Hidup akan lebih bermakna
manakala kita mampu dan mau memberikan upaya yang lebih untuk memenuhi harapan
orang lain.
Tuhan memberkati
Jumat, April 05, 2013
Tukang Bubur
Hampir semua orang yang kenal saya, tahu persis. Bahwa ada 3
hal yang saya benci dalam hidup. Tiga hal itu adalah Pisang,susu dan Bubur.
Jangankan menikmati, melihat dan mencium baunya saja, saya akan lari
terbirit-birit menjauh sebelum saya…muntah !
Saya sendiri lupa apa penyebabnya, sampai-sampai saya begitu “alergi” dengan 3 hal itu. Jika tentang susu, seingat saya waktu saya kecil saya juga minum susu. Hanya menurut Ibu, karena saya alergi susu sapi, maka diberikannyalah kepada saya susu kedelai. Ini untuk menghindari alergi. Jika minum susu sapi maka banyak bisul tumbuh di wajah saya. Jika tentang pisang, seingat saya waktu kecil masih suka makan pisang. Tapi entah sekarang jika membau harumnya buah pisang. Tiba-tiba saya merasa mual dan ingin muntah. Lain lagi dengan bubur, saya tidak suka bubur (apalagi bubur sumsum) karena melihat bentuknya yang putih. Pikiran saya, itu semacam susu yang mengental. Jadi, akh…amit-amit..saya tidak menyukainya sama sekali.
Karena tidak suka, saya jadi benar-benar marah jika diperhadapkan kepada tiga hal itu. Jika bepergian, dan ada keluarga yang membawa pisang, susu, atau bubur di dalam mobil, saya pasti “ngambul”. Jadilah saya pribadi yang terkesan egois, karena memprotek kepentingan saya sendiri. Korban egois saya yang terdekat adalah Amanda dan Aura. Jika mereka minum susu didalam mobil. Pastilah saya menjadi emosi jiwa. Saya buka jendela mobil. Setelah mereka selesai minum susu, saya semprot mobil dengan pewangi. Ini terpaksa saya lakukan agar penderitaan saya lenyap !.
Dan dua hari ini, saya (terpaksa) melawan egoisme saya pribadi. Seorang pria yang saya teladani dalam kehidupan dan pelayanan, tergolek sakit di RS Graha Amerta Surabaya. Pria tersebut adalah R. Soedjatmiko, yang saya biasa sapa “Om Miko”. Pria yang setiap berjumpa dengan saya selalu terlihat “dandy”, kini tergolek lemah di ranjang Rumah Sakit. Tubuhnya kurus, dan nampak menderita akrena sakit yang harus di alaminya. Makanan Rumah sakit tak dapat di telannya. Baru satu sendok, sudah terasa mual dan mau muntah. Melihat situasi seperti itu, Ibu saya menawarkan untuk membuatkan bubur sumsum. Saya tahu, ibu saya ahli membuat bubur sumsum itu. Harumnya saja, sudah menarik selera untuk makan. Setahu saya karena Ibu membuatnya dengan daun pandan wangi. Dan benar saja, ketika di sajikan kepada Om Miko, beliau makan dengan lahap. Tentu kami semua bahagia melihat itu.
Rabu malam, saya di telpon Ibu. Perintah penting yang saya
terima adalah, besok pagi sebelum berangkat kerja. Saya harus mampir untuk
mengambil bubur sumsum dan mengirimkannya ke Om Miko. Hati kecil saya merintih.
Antara menerima penugasan ini atau menolak. Tapi hati kecil saya berkata, demi
Om Miko, egoisme saya atas bubur ini harus saya kalahkan. Kamis pagi saya ambil
bubur di rumah Ibu, saya taruh di jok belakang mobil dengan tas keresek yang di
ikat rapat. Baunya semerbak di dalam kabin mobil. Anda semua pasti bisa
membayangkan, perut dan kepala saya
berjuta rasanya….
Turun dari mobil, saya harus membawanya dan mengahturkan ke Om Miko. Begitu tahu bubur datang, Om Miko dengan senyum khas nya berkata,” Aku mau maem bubur sumsum nya Nini Made !”. Dan adegan selanjutnya adalah, saya melihat dengan mata kepala sendiri. Sendok demi sendok masuk kedalam tubuh Om Miko. Enaak kelihatannya, tapi kepala dan perut saya …makin berjuta-juta rasanya.Lengkaplah "penderitaan" saya pagi itu.
Pagi ini, saya kembali jadi tukang bubur. Tapi rasanya sudah tidak seperti kemarin. Saya berhasil sedikit mengatasi egoisme saya. Buat Om Miko, pribadi yang memberikan saya banyak inspirasi hidup ini, saya rela melakukannya. Dan sedikit demi sedikit, rasa egoisme saya mulai luntur…
Pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Bahwa kadang kita terlalu arogan untuk menuruti rasa psikis yang berlebihan didalam kepala kita. Tapi sayang,cinta dan respect kita pada seseorang rupanya mampu membuang itu semua. Saya tentu bersyukur dan menarik semua hikmah atas kejadian ini. Saya bisa mengalahkan egosime saya, dan membuat Om Miko bahagia. Entah untuk berikutnya, apakah saya juga berhasil mengatasi ketidaksukaan saya terhadap bubur,susu dan pisang ? Saya Cuma bisa jawab, “ Akh...Nggak Janji Dech !”
Surabaya, 05April 2013
Persembahanku untuk yang terkasih..
R Soedjatmiko
Saya sendiri lupa apa penyebabnya, sampai-sampai saya begitu “alergi” dengan 3 hal itu. Jika tentang susu, seingat saya waktu saya kecil saya juga minum susu. Hanya menurut Ibu, karena saya alergi susu sapi, maka diberikannyalah kepada saya susu kedelai. Ini untuk menghindari alergi. Jika minum susu sapi maka banyak bisul tumbuh di wajah saya. Jika tentang pisang, seingat saya waktu kecil masih suka makan pisang. Tapi entah sekarang jika membau harumnya buah pisang. Tiba-tiba saya merasa mual dan ingin muntah. Lain lagi dengan bubur, saya tidak suka bubur (apalagi bubur sumsum) karena melihat bentuknya yang putih. Pikiran saya, itu semacam susu yang mengental. Jadi, akh…amit-amit..saya tidak menyukainya sama sekali.
Karena tidak suka, saya jadi benar-benar marah jika diperhadapkan kepada tiga hal itu. Jika bepergian, dan ada keluarga yang membawa pisang, susu, atau bubur di dalam mobil, saya pasti “ngambul”. Jadilah saya pribadi yang terkesan egois, karena memprotek kepentingan saya sendiri. Korban egois saya yang terdekat adalah Amanda dan Aura. Jika mereka minum susu didalam mobil. Pastilah saya menjadi emosi jiwa. Saya buka jendela mobil. Setelah mereka selesai minum susu, saya semprot mobil dengan pewangi. Ini terpaksa saya lakukan agar penderitaan saya lenyap !.
Dan dua hari ini, saya (terpaksa) melawan egoisme saya pribadi. Seorang pria yang saya teladani dalam kehidupan dan pelayanan, tergolek sakit di RS Graha Amerta Surabaya. Pria tersebut adalah R. Soedjatmiko, yang saya biasa sapa “Om Miko”. Pria yang setiap berjumpa dengan saya selalu terlihat “dandy”, kini tergolek lemah di ranjang Rumah Sakit. Tubuhnya kurus, dan nampak menderita akrena sakit yang harus di alaminya. Makanan Rumah sakit tak dapat di telannya. Baru satu sendok, sudah terasa mual dan mau muntah. Melihat situasi seperti itu, Ibu saya menawarkan untuk membuatkan bubur sumsum. Saya tahu, ibu saya ahli membuat bubur sumsum itu. Harumnya saja, sudah menarik selera untuk makan. Setahu saya karena Ibu membuatnya dengan daun pandan wangi. Dan benar saja, ketika di sajikan kepada Om Miko, beliau makan dengan lahap. Tentu kami semua bahagia melihat itu.
Rabu malam, saya di telpon Ibu. Perintah penting yang saya
terima adalah, besok pagi sebelum berangkat kerja. Saya harus mampir untuk
mengambil bubur sumsum dan mengirimkannya ke Om Miko. Hati kecil saya merintih.
Antara menerima penugasan ini atau menolak. Tapi hati kecil saya berkata, demi
Om Miko, egoisme saya atas bubur ini harus saya kalahkan. Kamis pagi saya ambil
bubur di rumah Ibu, saya taruh di jok belakang mobil dengan tas keresek yang di
ikat rapat. Baunya semerbak di dalam kabin mobil. Anda semua pasti bisa
membayangkan, perut dan kepala saya
berjuta rasanya….Turun dari mobil, saya harus membawanya dan mengahturkan ke Om Miko. Begitu tahu bubur datang, Om Miko dengan senyum khas nya berkata,” Aku mau maem bubur sumsum nya Nini Made !”. Dan adegan selanjutnya adalah, saya melihat dengan mata kepala sendiri. Sendok demi sendok masuk kedalam tubuh Om Miko. Enaak kelihatannya, tapi kepala dan perut saya …makin berjuta-juta rasanya.Lengkaplah "penderitaan" saya pagi itu.
Pagi ini, saya kembali jadi tukang bubur. Tapi rasanya sudah tidak seperti kemarin. Saya berhasil sedikit mengatasi egoisme saya. Buat Om Miko, pribadi yang memberikan saya banyak inspirasi hidup ini, saya rela melakukannya. Dan sedikit demi sedikit, rasa egoisme saya mulai luntur…
Pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Bahwa kadang kita terlalu arogan untuk menuruti rasa psikis yang berlebihan didalam kepala kita. Tapi sayang,cinta dan respect kita pada seseorang rupanya mampu membuang itu semua. Saya tentu bersyukur dan menarik semua hikmah atas kejadian ini. Saya bisa mengalahkan egosime saya, dan membuat Om Miko bahagia. Entah untuk berikutnya, apakah saya juga berhasil mengatasi ketidaksukaan saya terhadap bubur,susu dan pisang ? Saya Cuma bisa jawab, “ Akh...Nggak Janji Dech !”
Surabaya, 05April 2013
Persembahanku untuk yang terkasih..
R Soedjatmiko
Selasa, Maret 26, 2013
Pemimpin berhati Hamba
Mata dunia tertuju pada Vatikan, awal bulan maret 2013 yang
lalu. Ketika vatikan mengadakan sidang Konklaf yang dihadiri lebih dari 100
kardinal sedunia untuk memilih paus yang baru. Ketika asap putih keluar dari
cerobong asap. Jutaan umat katolik sedunia bersorak-sorai. Seorang Paus baru
telah terpilih. Kardinal Jorge Bergoglio, yang berasal dari Argentina terpilih
menjadi Paus yang baru menggantikan Paus Benedidiktus XVI. Setelah terpilih,
dia memilih gelar Paus Fransiskus. Publik banyak mengenal dia sebagai pribadi
yang rendah hati dan peduli pada kaum papa.
Menarik bagi saya ketika media menulis bagaimana salah satu
wujud kerendahatian Paus Fransikus. Ketika konklaf selesai, dia nekad pergi
keluar untuk membayar tagihan hotel tempat dia menginap. Dan itu dilakukannya
dengan menggunakan bus sebagai sarana transportasi masal di vatikan. Sikap
sederhananya tidak tercipta sesaat ketika dia terpilih sebagai Paus yang baru.
Namun itu sudah terjadi dalam masa pelayanannya sebagai cardinal di Argentina.
Dia deikenal sebagai Kardinal penegah konflik social ataupun politik di
argentina. Hidupnya didedikasikan untuk kaum miskin dan menderita. Dia bukan
hanya mau memberikan bantuan, kotbah kepada kamu miskin dan menderita. Tetapi
dia juga mau diam dan tinggal di tengah-tengah mereka. Makan bersama mereka,
dengan makanan yang mereka makan.
Sosok yang begitu mulia ini muncul ketika dunia ini
merindukan kepemimpinan yang tanpa basa basi. Sebuah kepemimpinan yang
melayani. Pemimpin berhati hamba. Semua orang tahu, tipikal pemimpin yang
seperti ini sudah semakin langka, kalau tidak boleh dikatakan lenyap. Banyak
pemimpin sekarang yang terbelenggu pada birokrasi jabatan. Menjaga citra diri
secara berlebihan, demi langgengnya kekuasaan yang dimilikinya.
Moment paskah ini sebenarnya adalah moment yang tepat untuk
melakukan introspeksi diri. Terutama bagi
siapa saja yang merasa dirinyan adalah seorang pemimpin. Keteladanan Kristus
didalam membasuh kaki murid-muridNYA. Memikul salib dengan tubuh manusiaNYA.
Menerima segala cercaan dan hinaan adalah sebuah teladan sejati tentang
KERENDAHAN HATI. Kita semua tahu bahwa perkara seperti itu tidaklah mudah untuk
dilakukan di era modern seperti sekarang ini. Terlalu berat SALIB yang harus di
pikul para pemimpin di zaman modern ini. Apalagi jika harus memilkulnya dengan
menggunakan pakaian kebesaran (jas/full dress dan kebaya). Bisa bisa lebih
mahal harga jas dan kebaya nya daripada harga salib yang harus di pikul.
Banyak pemimpin sekarang yang terlihat baik dan peduli dengan
memberikan bantuan,dukungan bagi kaum yang miskin dan menderita. Namun menolak
jika harus duduk berdampingan dengan si miskin dan menderita sekaligus makan
bersama mereka. Inilah realita yang terjadi di dunia ini.
Paus Fransiskus adalah contoh yang ideal bagi kita di era
modern ini. Bagaimana kepemimpinan di jalankan dengan rendah hati dan
ketulusan. Mungkin terlalu jauh jika harus meneladani Yesus yang telah sempurna melakukan
keteladanan kerendahatian. Jangankan meneladaninya, mencoba melakukan apa yang
DIA perbuat saja, belum tentu kita mampu. Tak perlu berkecil hati melihat itu
semua. Karena itu berarti, saya dan anda semua adalah manusia biasa. Hanya
marilah kita terus berupaya mengingat-ingat segala contoh keteladanan Tuhan
Yesus kepada umat manusia. Lalu mari dengarkan suara hati kita. Jika DIA mau
melakukannya, mengapa kita tidak ?
Langganan:
Postingan (Atom)











