Sabtu, Juni 30, 2012
Everyone is Sales
Jumat, Juni 29, 2012
Andai kita tahu
Rabu, Juni 13, 2012
Capek tapi Nikmat
Kamis, Mei 24, 2012
Ada Udang di balik Peyek
Iwak peyek...iwak peyek...iwak peyek sego jagung.....
Bukan dari kemulusan kita didalam berbicara.
Rabu, Mei 23, 2012
Siapa Takut ?
Bacaan : Matius 14 : 22-36
Menjadi seorang pembalap mobil Formula 1, bukan hanya bermodalkan ketrampilan mengemudi mobil balap dan bisa ngebut melewati berbagi tikungan tajam dengan kecepatan hampir 300 km/jam. Tetapi juga harus memiliki keberanian dan kemampuan mengatasi rasa takut. Siapa yang tidak takut duduk dan berkendara dengan mobil melewati tikungan-tikungan tajam dengan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan sebuah pesawat. Salah sedikit atau kehilangan konsentrasi, dapat menimbulkan kecelakaan dan kematian.
Jumat, April 13, 2012
When I fall in love

Masih ingat rasanya ketika kita jatuh cinta ?
Kata Oma Titiek Puspa, jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya…
Kata Gombloh lain lagi, Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat…
Kalau menurut saya sendiri, jatuh cinta rasanya seperti permen nano-nano. Manis asem asin…ramai rasanya !!!
Mungkin kita tertawa bila mengenang bagaimana rasanya jatuh cinta. Apalagi cinta pertama. Sehari tak berjumpa, serasa setahun tak bertemu. Seminggu tak bertemu serasa 7 purnama tak jumpa. Mau makan,mandi,tidur…selalu ingat kamu ! Begitu luar biasanya “virus cinta” ini. Maka tak salah bila Doel Sumbang mengatakan,” Cinta adalah Anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara bila tak punya cinta”. Maka, jika anda pernah atau bahkan saat ini sedang jatuh cinta…maka berbahagialah. Karena anda terhindar dari kesengsaraan akibat tak merasakan anugerah cinta !
Darimana datangnya cinta ? Kata orang tua, dari mata turun kehati. Cinta diawali dari kekaguman yang muncul setelah pandangan mata yang terarah dan di balut dengan hati. Maksudnya disini adalah dari sebuah pandangan mata, kemudian otak kita mengirimkan pesan ke hati. Selanjutnya hati dan otak kita bekerja sama untuk membangkitkan hasrat untuk memiliki. Apakah benar begitu adanya ? Entahlah…saya juga tidak yakin. Tapi yang pasti begitulah saya ketika jatuh cinta pada pacar saya dulu yang sekarang sudah menjadi istri saya. Dari pandangan mata saya dalam sebuah kelas katakesasi Sidhi di gereja. Wajah dan mata indah bola ping-pongnya membuat mata saya berhenti berkedip sejenak. Apalagi ketika saat itu saya ditugaskan sebagai ketua kelas katakesasi sidhi dan dia sebagai sekretarisnya. Maka terjadilah “affair” antara Ketua dan sekreataris pada saaat itu. Kami berangkat dan pulang katakesasi bersama,. Terkadang sehabis katakesasi, kami pergi “kencan” yakni mampir untuk cari makan malam bersama. Dari situlah tumbuh benih-benih cinta yang pada akhirnya membawa saya dan dia kepada kehidupan berumah tangga.
Mungkin masing-masing orang memiliki proses jatuh cinta yang berbeda dengan saya. Ada seorang teman yang jatuh cinta pada pasangannya diawali dengan rasa iba dan kasihan. Karena biasa menunjukkan perhatian dan kasih saying, akhirnya cinta bersemi. Namun ada pula yang mengawali proses jatuh cinta karena sebuah proses bisnis. Diawali dengan sebuah kerjasama dagang, namun karena asset yang semakin besar akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Aset tetap terjaga, relationship menjadi lebih berkualitas dari seorang partner bisnis menjadi sepasang suami istri.
Apakah cinta selalu membawa kebahagiaan bagi kita ? Maybe Yes…Maybe No. Tergantung bagaimana kita merawat cinta itu. Dan mengarahkan komitment kita bersama agar cinta yang sudah bersemi terus mekar dan harum semerbak. Tidak ada cinta yang terus mekar dan bertumbuh tanpa ada upaya yang serius dari sebuah pasangan. Cinta hanya bisa bersemi ketika masing-masing pasangan mau berkomitmen untuk mengendalikan egoisme pribadinya masing-masing dan menaruhnya didalam sebuah komitmen kebersamaan atas nama cinta. Selama egoisme tak terkendalikan, maka dapat dipastikan bahwa cinta itu hanyalah milih salah seorang saja, bukan milik bersama.
Nah, itu cinta kita kepada manusia yang menjadi pasangan hidup kita. Bagaimanakah cinta kita kepada Tuhan? Apakah anda pernah merasa jatuh cinta kepada Tuhan? Kalau anda pernah merasakan jatuh cinta kepada Tuhan, apakah rasanya juga sama seperti tahi kucing rasa coklat ? Apakah berjuta rasanya serta siang malam terbayang-bayang selalu? Kalau pertanyaan ini susah untuk dijawab, mungkin pertanyaan ini akan kita permudah.Pernahkah anda “berkencan” dengan Tuhan ?
Kencan dengan Tuhan tentu memiliki berbagai macam tafsir. Bisa melalui doa,pujian,persekutuan, pelayanan dan sebagainya. Namun bagi saya, inti berkencan dengan Tuhan adalah sebuah situasi dimana kita memiliki keakraban spiritualitas denganTuhan. Soal wujudnyata nya, masing-masing orang bisa berbeda-beda. Ada yang bekencan dengan Tuhan melalui gitar dan pujian memuliakan Tuhan. Ada yang berkencan dengan Tuhan dengan berdoa. Dan masih banyak lagi cara berkencan dengan Tuhan. Sekali lagi masing-masing orang berbeda cara. Mana yang lebih baik diantara berbagai cara tersebut ? Apa keuntungan berkencan dengan Tuhan ? Saya hanya bisa menjawab, bahwa yang tahu jawabannya adalah orang yang hidupnya selalu nampak damai dan sukacita walau harga BBM sebentar lagi naik. Orang yang selalu bisa tersenyum walau memiliki banyak persoalan kehidupan dunia. ORang yang selalu bisa membagi berkat kepada sesama dan menjadi saluran berkat. Karena mereka bisa mendapatkan semua itu karena intimnya mereka dengan Tuhan dan berkualitasnya kencan mereka dengan Tuhan.
Teman-teman,
Bagi anda yang hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada sesama manusia (terutama kepada pasangan kita). Namun belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada Tuhan. Saya hanya bisa berkata, cobalah untuk memulai sebuah kencan dengan Tuhan. Rasanya benar-benar seperti permen nano-nano…manis,asem,asin, ramai rasanya. Kadang terasa manis ketika kita sedang menerima berkat Tuhan. Kadang terasa asem, bila doa kita tak terjawab. Kadang terasa asin bila jawaban Tuhan bukan seperti keinginan kita. Kalo sudah begitu situasinya mirip-mirip ketika kita jatuh cinta pada pasangan kita. Ada mesranya, jikalau pas menerima berkat Tuhan. Ada ngambeknya, bila Tuhan serasa tak mendengar doa kita. Ada marahnya bila apa yang diberikanNya tak sesuai dengan keinginan kita. Seru banget !
Yang pasti dan luar biasa adalah, apapun sikap kita kepada Tuhan. Cinta dan kasihNya kepada kita tetap dan abadi. Walau kita sering mendukakanNya, sering menduakanNya namun kasihNya tak pernah berkesudahan. CintaNya kepada kita bukan cinta biasa. Kalau sudah begitu, saya ingin sekali mengatakan kepada anda semua. Rugi besar bila anda tak pernah berkencan dan jatuh cinta kepada Tuhan. Jadi…selamat jatuh cinta kepadaNya
Namun, bila anda sudah mencoba dan merasakan indahnya jatuh cinta kepadaNya. Jangan Sungkan untuk share dengan saya… Supaya saya bisa mengatakan,”Aku makin cinta kepadaMu…Tuhan”
Surabaya, 21 Maret 2012
Inspired by pengirim renungan pagi “kencan dengan Tuhan”
Senin, Maret 19, 2012
Tombol Escape dan Tombol Power

Saya belajar komputer mulai ketika saya kelas 2 SMP. Waktu itu saya dibelikan orang tua saya satu unit computer bekas type XT. Belum seperti computer jaman sekarang tentunya. Kala itu di butuhkan sebuah disket besar untuk melakukan “booting” atau proses menyalakan komputer. Apalagi programnya, seingat saya saat itu yang tercanggih adalah WS (Wordstar) dan Lotus. Belum ada Microsoft office milik windows ataupun open office milik linuk. Memang, Komputer beserta perangkatnya berkembang pesat dari sejak awal di munculkan sampai terkini. Terutama sejak era informasi seperti sekarang ini. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi dan semakin waktu tentu semakin canggih.
Namun ada sesuatu hal yang tak pernah berubah. Kalaupun berubah tidak terlalu significant menurut saya, yakni “keyboard” computer. Dari susunan hurufnya, sampai bentuk keyboard selalu sama. Demikian juga dengan tombol-tombolnya, nyaris sama ! Yang tak berubah lainnya adalah fungsi tombol pada pada CPU nya yakni tombol power dan tombol restart. Tombol power berfungsi untuk mengaktifkan, sedangkan tombol restart untuk melakukan re-boot. Bahkan,akhir-akhir ini tombol power dan restart dijadikan satu tombol, khususnya untuk CPU terbaru. Anda yang biasa mengoperasikan komputer tentu tahu betul tentang ini.
Sejujurnya saya tertarik dengan dua tombol utama yakni tombol escape dan tombol power. Menurut fungsinya, Tombol escape digunakan untuk “kondisi darurat”. Bila computer ngadat, tombol ini ditekan untuk keluar dari kondisi ngadat atau yang biasa orang sebut “hang”. Sedangkan Tombol power di pencet untuk mengkatifkan komputer dan membuat komputer mampu melakukan segala sesuatu dengan begitu hebatnya.
Secara pribadi saya punya tombol escape. Apalagi ketika saya merasa sedang “hang”. Yakni sebuah kegiatan “memotret”. Entah mengapa saya begitu “keracunan dan kecanduan” untuk kegiatan yang satu ini. Ketika penat melanda, kamera terasa menjadi sebuah tombol escape yang sempurna buat saya. Apalagi ketika dengan kamera itu saya mendapatkan object foto yang menarik dan saya melakukan kegiatan olah digital untuk menyempurnakan tampilan foto. Saya betah berjam-jam untuk melakukan itu didepan komputer. Setelah itu semua selesai, saya bisa tidur nyenyak !
Teman/sahabat saya lain lagi gayanya. Dia masih “single” atau belum menikah. Sepengetahuan saya dia belum punya pacar. Namun sepengetahuan saya juga, saat ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Bahkan ini cinta pertamanya (sekali lagi kalo saya tidak salah). Nah, teman saya ini punya tombol power didalam kehidupannya. Tombol itu “terpencet” otomatis ketika dan setelah dia bertemu dengan sang pujaan hatinya. Biasanya itu terjadi ketika libur akhir pekan. Kalo dia sudah bertemu dengan gadis yang sedang dicintainya. Dia merasakan hidup yang penuh warna dan penuh semangat. Apapun akan mampu dia laksanakan, bahkan bersepeda dari luar Surabaya menuju kota Surabaya sekalipun. Asal dia sudah bertemu dengan sang pujaan hati maka terasa bahwa tombol power itu…terpencet...otomatis ! Pikiran segar, badanpun bugar.
Apapun namanya, dua tombol ini tentu merupakan tombol ajaib bagi saya dan teman saya. Beda nama dan beda fungsi. Tapi hasilnya satu yakni membangkitkan semangat kehidupan. Waktu memencetnya pun beda, tapi yang saya tahu pasti kalo kedua tombol ini tak terpencet, pasti serasa “kurang darah”. Terasa letih dan lesu dalam menjalani kehidupan…
Malam ini saya bahkan baru menyadari, bahwa sebenarnya Tuhan yang maha kuasa itu adalah sumber tombol escape maupun tombol power sekaligus. Dengan kuasaNya yang ajaib, Tuhan bahkan mengendalikan kedual tombol itu dengan begitu sempurnanya. Sayang, manusia ini sering lupa dengan hal ini. Atau kalau pun tak lupa, mungkin hanya menjadikan Tuhan sebagai tombol escape saja. Artinya disini adalah, Jikalau menghadapi keruwetan hidup, kita buru-buru memencetnya agar segera terbebas dari keruwetan. Tetapi jika sedang bahagia, maka kita lupa bahwa sesungguhnya yang memegang dan memiliki tombol power kita itu adalah DIA.
Teman-teman yang terkasih,
Pasti semua setuju, bahwa Tuhan kita yang sempurna dan baik itu tidaklah pantas bila hanya berperan sebagai tombol escape saja. Sebagai Sang Pencipta, Dia bahkan lebih pantas untuk menjadi tombol power bagi kita. Ketika kita dekat padaNya rasakan kekuatan Allah itu menjadi kekuatan kita. PowerNya menjadi power bagi kita. Bahkan serunya lagi, seperti tombol power dan tombol restart di komputer yang saat ini sudah jadi satu. Maka disaat kita memencet tombol power itu, maka sesungguhnya kita bukan hanya mendapatkan “power”nya saja tetapi juga mendapatkan “way out” nya. Bukan hanya dapat kekuatanNya tetapi juga mendapat “penghiburanNya”
Bahagianya kita menjadi milik Allah. Dia begitu mencintai dan mengasihi kita. KebaikanNya kita rasakan tak berkesudahan. Dan atas perkenanNya kita memiliki jaminan kehidupan yang abadi.
Hanya teman baik saya tadi sering iseng, Pernah dia bilang, Mas...sampeyan jangan keasyikan mencet tombol escape terus lho… Nanti tombol power nya “shut down” otomatis …
Saya langsung menjawab dalam hati, “ Oh tidaaaaak…!!!” Aku tak mau itu terjadi. Dan saya pun sekarang yakin. Setelah anda membaca catatan ini. Pasti dalam hati anda juga akan berkata seperti saya tadi….Hehehe
Rawatlah tombol power itu teman…
dan tetap miliki juga tombol escapemu.
Bijaklah dalam mengkombinasikan keduanya.
Surabaya, 18 Maret 2012
Inspired by pejantan tambun…





