Sabtu, Juni 30, 2012

Everyone is Sales


BACAAN : Matius 28 : 19-20

Tubuhnya tegap, menyapa ramah setiap orang yang keluar masuk sambil menanyakan apakah ada yang bisa dia bantu. Di pinggang kanannya, terselip pistol sementara di sebelah kiri ada borgol. Dia adalah seorang “security” yang saya jumpai di sebuah kantor perbankan. Siang itu saya datang ke Bank untuk mengurus ATM saya yang hilang. Sambil menunggu antrian, dia menghampiri saya dan berbasa-basi sejenak agar sabar menunggu giliran di panggil staff pelayanan nasabah (customer service). Yang tak saya duga di tengah-tengah obrolan dia menawarkan sebuah product asuransi yang dimiliki oleh bank tersebut. Saya tentu cukup kaget, karena tak pernah saya bayangkan tenaga security yang baisanya galak dengan tatap mata penuh selidik, sekarang ada di samping saya dengan penampilan sebagai salesman. Walau tetap menggunakan seragam "security'.
Yang membuat saya bingung, dia begitu luar biasa menawarkan product asuransi tersebut. Tak pernah terpikir oleh saya, seorang tenaga security yang biasa berlatih untuk mengantisipasi kejahatan. Ternyata sekarang juga bisa dilatih untuk menjadi seorang tenaga penjual yang handal, sekaligus mengamankan situasi perbankan. Ide managerial yang benar-benar cerdas !

Coba anda buka di google. Ketik kata kunci “everyone is sales”. Anda akan dapatkan berbagai topic seminar yang sudah sering diadakan di belahan dunia eropa dan amerika. Setiap orang adalah sales, dengan kata lain semua orang sebenarnya memiliki talenta sebagai penjual. Anda mau bukti ? coba kita ingat-ingat, didalam setiap cerita kehidupan selalu ada “bumbu-bumbu penyedap” yang kita tambahkan agar cerita kita terdengar hebat dan masuk akal. Dengan “bumbu-bumbu penyedap itu” lawan bicara kita akan percaya bahwa cerita kita memang akurat dan benar adanya.

Everyone is sales. Begitu juga dengan anda dan saya. Sudah lebih dari 13 tahun saya bekerja sebagai seorang sales. Banyak suka duka yang saya hadapi. Demikian juga banyak cerita unik yang pernah saya temui. Saya mensyukuri semua karena bagi saya ini adalah sebuah berkat Tuhan didalam kehidupan saya. Bagaimana dengan anda ? Apakah anda juga merasa berpotensi sebagai sales, terutama sales keselamatan yang menjadi karya keselamatan Kristus bagi dunia ini. Matius 28 : 19-20 mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita diberi misi sebagai agen-agen (sales) keselamatan yang di tunjuk oleh Kristus. Kita di minta mewartakan sebuah berita kepada dunia ini tentang kebenaran dan kasih dan damai yang menetap (KJ 426). Kepada kita juga diminta agar suka menuturkan cerita mulia, cerita tentang Tuhan Yesus (KJ 427).

Teman Teman
Apapun pekerjaan kita di dunia ini, ingatlah bahwa kita adalah agen-agen keselamatan bagi dunia. Tentu sebagai agen/sales yang baik maka kita harus mampu menampilkan citra yang baik atas product yang kita tawarkan. Kita juga harus meyakinkan target kita dengan memberikan teladan perbuatan yang sempurna. Agar kita tidak di cap sebagai sales yang hanya bisa membual dan menjual. Tetapi justru tidak pernah menjadi bagian dari product yang kita tawarkan. Tragis bila itu yang terjadi.

Menjadi sales juga berarti memiliki hubungan yang mesra dengan perusahaan dimana dia bekerja, dan juga hubungan yang baik dengan pelanggan. Karenanya, menghayati panggilan sebagai agen/sales keselamatan. Maka kita pun harus memiliki hubungan yang mesra dengan Kristus dan hubungan yang baik dengan sesama kita

Mari belajar untuk menjadi sales pewarta keselamatan. Mari belajar untuk menjadi sales pewarta damai. Dan mari kita menunjukkan citra diri yang sempurna sebagai milik Kristus yang telah menerima karya Agung Penebusan. Tak perlu malu dengan "seragam kehidupan kita". Apapun yang sedang kita kenakan sebagai seragam kehidupan sehari-hari, kita semua adalah agen/sales bagi keselamatan
Wartakan keselamatan, Beritakan itu…
BE A GOOD SALES…!!!

Jumat, Juni 29, 2012

Andai kita tahu


BACAAN : Mazmur 18 : 26-27

Jarum jam menunjukan pukul 07.30 wib. Sambil menunggu lampu hijau di perempatan TL Jl.Raya nginden, saya membuka Blackberry messengers.  Salah seorang contact bbm saya  meng update status  nya“ Kuingin Tuhan tahu, isi hatiku…” Saya tersenyum dan pikiran saya berkelana kemana-mana. Yang menjadi pokok pemikiran saya saat itu adalah, kira-kira  di pagi hari ini ada berapa banyak jiwa yang sedang meminta kepada Tuhan agar Dia tahu isi hati kita….
Saya pun teringat sebuah peribahasa, “dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu ?” Apa karena ini, akhirnya kita merasa hanya Tuhan yang bisa tahu apa yang menjadi isi hati kita saat ini. Bahkan orang-orang terdekat kita pun, belum  tentu bisa tahu apa yang sedang menjadi isi hati kita. Tak ada yang bisa menebak, Semua terasa bagaikan misteri yang tak jelas jawabnya…
Hidup ini memang banyak persoalan. Hidup ini juga penuh dengan cita-cita dan pengharapan. Bahkan hidup ini terkadang penuh dengan segala keinginan yang sanggup mengalahkan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita. Ketika segala cita-cita,pengharapan dan keinginan kita tidak tercapai, mungkin hati kita merasa kecewa. Dan akibatnya kita merasa galau, lalu berkata,” Oh Tuhan…kuingin Kau tahu isi hatiku”
Sebagai Sang Pencipta, kita semua yakin bahwa DIA pasti tahu apa yang sedang menjadi  isi hati kita. Bahkan DIA bisa memahami  isi hati kita. Karena DIA tahu dan paham pada isi hati kita, maka sebenarnya hanya DIA jugalah yang bisa mengobati luka di hati kita. PenghiburanNya sungguh menguatkan batin kita. Janji dan penyertaanNya selalu ada dan berlaku bagi kita. Hanya dekat denganNya kita akan merasakan damai. Seperti yang  Chrisye nyanyikan dalam lirik lagu Damai bersamaMu, “ …Hanya padaMu Tuhan, tempat ku berteduh dari semua  kepalsuan Dunia”
Ketika sampai di perempatan Jl.Ngagel Jaya Selatan, tiba-tiba batin saya terhenyak, mengingat dan membayangkan apa yang sebenarnya menjadi isi hati Tuhan bila melihat kita dengan segala gaya kehidupan kita di dunia ini. Pada mulanya, Tuhan menciptakan manusia sebagai mahkluk termulia dan di mahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Kepada kita diberikanNya tempat tinggal yang baik, lingkungan yang bersahabat. Namun apa yang terjadi ? kita seringkali merusak apa yang menjadi pemberian Tuhan tersebut dengan sikap egoisme kita. Coba kita renungkan bersama, betapa banyak berkat pemberian Tuhan kepada kita. Berkat kesehatan, sahabat, pekerjaan, keluarga dan masih banyak lagi berkat-berkat Tuhan yang tak dapat kita hitung, Namun seringkali kita menyepelekan bahkan mengabaikannya…
Bahkan berkat termahal yang diberikanNya kepada kita, yang terwujud dalam karya keselamatan atas kematian Kristus di kayu salib. Terkadang tidak kita anggap sebagai sebuah berkat termahal. Beberapa diantara kita menggadaikan dan menjualnya hanya demi kedagingan kita. Hanya demi memuaskan keinginan hati kita.
Teman-teman
Pernahkah kita berpikir apa yang menjadi isi hati Tuhan melihat ini semua ? Saya termenung dan berpikir. Andai saja telinga kita bisa mendengar suara Tuhan. Andai mata kita bisa melihat Tuhan secara langsung.  Mungkin kita akan mendengar dan melihat, Dia terduduk, menghela nafas panjang, dan berseru dengan suaraNya yang lirih, “ oalaaah…le….oalaah Ndhuk…” (BHS IND : aduh….anakku….aduh anakku…..)
Mari kita renungkan bersama. Bahwa kita pun perlu dan harus tahu apa yang menjadi isi hati Tuhan jika kita memang mengasihiNya. Kita wajib menyenangkanNya karena DIA benar-benar  mencintai kita sebagai umat ciptaanNya.
Merujuk Mazmur 18 : 26-27 “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela.  TUHAN, Engkau setia kepada orang yang setia dan baik kepada orang yang baik “
Mari kita ciptakan relasi yang seimbang dengan Tuhan. Jangan hanya menuntut dan meminta agar Tuhan tahu dan menuruti apa yang menjadi kehendak kita. Tetapi mari kita berusaha terus untuk menyenangkanNya. Agar kelak ketika kita bertemu dengan DIA, kita bisa melihat DIA meyapa kita dan berkata “ Baik sekali perbuatanmu hai anakKu, masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu”

Dear RF …(My Contact BBM)
Thanks for being my inspiration..thru your BBM status in this morning
God always loves you….

Rabu, Juni 13, 2012

Capek tapi Nikmat




Bacaan : Matius 11 : 28-30


Saya tak pernah tahu siapa nama beliau. Yang pasti dia seorang penjual gethuk di pasar blauran Surabaya. Usianya sudah lebih dari 70 tahun dan sudah berjualan gethuk lebih dari 50 tahun. Saya pernah mengajaknya berbincang bincang. Dan dari perbincangan itu saya tahu bahwa sehari-hari beliau hanya tidur tak lebih dari 5 jam. Membuat gethuk dan menjualnya dipasar, itulah penyebabnya. Saya bertanya,apakah beliau tidak pernah merasa capai ? Jawabnya,"capek tapi nikmat". Saya makin penasaran dengan jawaban ini. Ketika saya tanya apa maksudnya, beliau menjawab, karena hanya dengan berjualan gethuk ini, beliau mampu mendewasakan anak-anaknya sampai mandiri dan berkeluarga. Bahkan kini anak-anaknya sudah mampu mandiri dan berkeluarga.

Seperti sepasang kerbau di sawah, yang dipasang "KUK" pada tubuhnya untuk membajak sawah. Demikian Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana kehidupan umat manusia di dunia ini. Perlu usaha yang keras, semangat yang tak pernah padam untuk menaklukkan kehidupan dunia. Tak ada seorangpun yang merasa bahwa kehidupan sekarang itu mudah. Dimana-mana ada kompetisi. Seakan-akan berlaku hukum rimba,"Siapa yang kuat, dia yang menang"

Berbahagialah kita yang menjadi milik Kristus. Ditengah perjuangan kita, terdengar suaraNya,"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Suara itu sungguh luar biasa dan menyejukkan kita. JanjiNya memang memberikan kelegaan dan bukan melepaskan semua keletihan dan kelesuan kita. Tetapi mari kita renungkan, bukankah kita akan merasa lega bila kita mampu mengatasi segala hal yang membuat kita letih dan lesu?

Yang harus kita lakukan adalah terus berjuang dan berjuang. Jangan mau kalah dengan si mbok penjual gethuk di pasar blauran. Ingat kata-kata nya, "'meski capek tapi nikmat". Tak perlu meratapi betapa capek nya kita didalam berjuang. Ingat saja betapa nikmatnya hasil ketekunan dan perjuangan kita. Ingat juga suara Kristus yang sudah pasti akan memberikan kelegaan kepada kita. Dengan itulah, KUK yang dipasang akan terasa ringan dan beban itu tidak terlalu berat bagi kita.

"Capek tapi nikmat. Capek perjuangannya tapi nikmat didalam mensyukuri hasilnya"



Kamis, Mei 24, 2012

Ada Udang di balik Peyek


Iwak peyek...iwak peyek...iwak peyek sego jagung.....

Lagu trio macan itu begitu terkenal. Sampai-sampai anak-anak kecil pun hapal dan menyanyikannya. Saya ternasuk penikmat peyek. Apalagi peyek Udang buatan ibu saya. Beliau dan istri saya tahu betul bagaimana saya kecanduan peyek udang ini. Sekilo udang yang dipeyek, mampu saya habiskan dalam sehari dengan atau tanpa nasi sekalipun. Sampai-sampai terkadang ibu saya harus menyembunyikan setoples peyek buatannya agar saya tidak menghabiskannya sendirian. Ini semua karena kedua anak saya pun mulai kecanduan peyek udang buatan ibu saya. Dan sudah pasti Ibu saya lebih mementingkan kedua anak saya daripada saya yang menurut beliau semakin gemuk karena tidak bisa mengontrol pola makan sehari-hari.

Belakangan saya tahu, udang sendiri sebenarnya harus dikurangi untuk di konsumsi. Terutama untuk seseorang yang memiliki kolestrol tinggi didalam tubuhnya. Bahkan menjaring informasi di internet, makan undang dan minum jeruk (vitamin C) dapat mengakibatkan keracunan dalam tubuh akibat timbulnya zat arsenik. Entah informasi ini akurat atau tidak, dan sudah terbukti melalui penelitian atau hanya sekedar “hoax” (informasi palsu). Tetapi jika memang benar, saya agak ngeri juga dengan peyek udang. Bahan bakunya saja yakni udang, sudah mengancam naiknya kolestrol. Apalagi di peyek (di goreng) dengan minyak, yang pasti juga berpotensi menaikan kolestrol. Wah......

Kesimpulannya, sesuatu yang terlihat dan terasa nikmat sebenarnya belum tentu baik dan aman. Entah siapa yang mengarang peribahasa “ ada udang di balik batu”. Yang pasti udang menjadi subject negatif didalam peribahasa itu. Dan sekarang saya lebih suka menyebutnya sebagai “ada udang di balik peyek”. Sesuatu yang sungguh terasa nikmat, namun ternyata berpotensi membawa sengsara...

Jaman sekarang, banyak hal yang terkesan seperti itu. Dimana mana nampak figur-figur pribadi yang nampak baik namun berhati buas. Mulutnya berkata-kata sesuatu hal yang baik. Namun hatinya, pikirannya bertolak belakang dengan manisnya kata-kata yang keluar dari bibir. Seringkali memproklamirkan kebaikan dan ketulusan, namun perbuatanya tak pernah lepas dari kejahatan,egoisme dan kemunafikan. Yang terparah adalah, banyak pribadi yang tampil baik bukan dilandasi ketulusan hati. Namun demi meraih sebuah popularitas ditengah-tengah sebuah komunitas. Perbuatan yang baik itu sengaja di tebar sebagai sebuah cara untuk menyampaikan pesona di hadapan orang-orang disekelilingnya. Keinginan untuk popular lebih utama dibandingkan ketulusan hati didalam melakukan sebuah perbuatan.

Syair lagu Peterpan yang dinyanyikan Ariel menggelitik batin kita.

Buka dulu topengmu...buka dulu topengmu
...biar kulihat wajahmu...biar kulihat warnamu”

Yah, kadang kita tak sadar bahwa seringkali kita hidup dengan topeng di wajah kita. Memoles segala sesuatunya agar nampak indah. Agar nampak sebuah profil pribadi yang sempurna. Namun ternyata itu adalah sebuah topeng. Yang ketika dibuka, munculah wajah bopeng.. Wajah dan Warna kita yang asli.

Teman,
Ada udang dibalik peyek...
Mari kita belajar membuang kepalsuan didalam hidup kita. Mari membentuk pribadi kita agar memiliki profil yang sebenarnya tanpa kepalsuan dan kemunafikan. Biarlah segala yang kita ucapkan,kita perbuat semuanya hanya untuk kebaikan umat Tuhan dan memuliakan Tuhan. Bukan agar diri kita popular dan di sanjung oleh sebuah komunitas dimana kita berada. Hanya diperlukan sebuah hati yang jernih dan bening untuk melakukan itu semua. Dan untuk memulainya, mari kita ingat baik-baik. Bahwa orang menilai kualitas pribadi kita, dari ketulusan perbuatan kita.
Bukan dari kemulusan kita didalam berbicara.

Ada udang dibalik peyek...
Biarlah hanya udang yang menjadi subject negatif....
Dan bukanlah kita....

Karena kita bukan Udang, yang otak dan pantatnya berdekatan...
Sampai-sampai ada anekdot, “ Dasar otak udang !”
Akh...lagi-lagi udang jadi subject yang negatif...

Surabaya, 24 Mei 2012

Rabu, Mei 23, 2012

Siapa Takut ?


Bacaan : Matius 14 : 22-36

Menjadi seorang pembalap mobil Formula 1, bukan hanya bermodalkan ketrampilan mengemudi mobil balap dan bisa ngebut melewati berbagi tikungan tajam dengan kecepatan hampir 300 km/jam. Tetapi juga harus memiliki keberanian dan kemampuan mengatasi rasa takut. Siapa yang tidak takut duduk dan berkendara dengan mobil melewati tikungan-tikungan tajam dengan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan sebuah pesawat. Salah sedikit atau kehilangan konsentrasi, dapat menimbulkan kecelakaan dan kematian.

Memiliki rasa takut adalah sebuah sisi kejiwaan seorang manusia. Dan itu bisa dipahami selama masih dalam taraf wajar dan tidak berlebihan. Beberapa orang memiliki rasa takut yang berlebihan dengan alasan yang sama sekali tidak wajar. Ketakutan itu menghantui mereka dan pada akhirnya dapat merusak kehidupan mereka akibat hilangnya kedamaian di dalam hati. Jika kondisi yang terjadi adalah demikian, maka sangat dibutuhkan bantuan orang lain yang memiliki keahlian untuk mengatasi dan mengendalikan ketakutan.

Pengalaman murid-murid Yesus yang mengalami ketakutan luar biasa akibat perahu yang mereka tumpangi terancam tenggelam akibat cuaca badai, mengingatkan kita bagaimana mengendalikan ketakutan bersama Yesus. Apapun yang menjadi alasan bagi kita untuk takut seharusnya bisa kita kendalikan ketika kita mengingat bahwa Yesus berkuasa atas segala hal. Bersama Dia dan melalui kehendakNya, maka badai dan topan yang menghalang akan berubah menjadi sebuah kedamaian. Kuncinya adalah menyerahkan diri dan percaya bahwa Tuhan mampu mendatangkan segala perkara yang mendatangkan kebaikan bagi kita.

Demikian juga mengatasi ketakutan yang terjadi di dalam diri kita terkait rasa tidak mampu dan rendah diri. Percayalah bahwa masing-masing manusia diciptakan unik dan berbeda dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Setiap manusia memiliki nilai dan keahlian masing-masing. Melalui sebuah kehidupan bersama dengan sesama, rasa saling melengkapi itu akan terjadi. Ini soal rasa percaya diri saja, dan bukan soal rasa takut. Mulai sekarang mari kita berani berkata," Siapa takut ?"

"Aku berani dan bisa. Siapa takut ?"


Jumat, April 13, 2012

When I fall in love


Masih ingat rasanya ketika kita jatuh cinta ?
Kata Oma Titiek Puspa, jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya…
Kata Gombloh lain lagi, Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat…
Kalau menurut saya sendiri, jatuh cinta rasanya seperti permen nano-nano. Manis asem asin…ramai rasanya !!!

Mungkin kita tertawa bila mengenang bagaimana rasanya jatuh cinta. Apalagi cinta pertama. Sehari tak berjumpa, serasa setahun tak bertemu. Seminggu tak bertemu serasa 7 purnama tak jumpa. Mau makan,mandi,tidur…selalu ingat kamu ! Begitu luar biasanya “virus cinta” ini. Maka tak salah bila Doel Sumbang mengatakan,” Cinta adalah Anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara bila tak punya cinta”. Maka, jika anda pernah atau bahkan saat ini sedang jatuh cinta…maka berbahagialah. Karena anda terhindar dari kesengsaraan akibat tak merasakan anugerah cinta !
Darimana datangnya cinta ? Kata orang tua, dari mata turun kehati. Cinta diawali dari kekaguman yang muncul setelah pandangan mata yang terarah dan di balut dengan hati. Maksudnya disini adalah dari sebuah pandangan mata, kemudian otak kita mengirimkan pesan ke hati. Selanjutnya hati dan otak kita bekerja sama untuk membangkitkan hasrat untuk memiliki. Apakah benar begitu adanya ? Entahlah…saya juga tidak yakin. Tapi yang pasti begitulah saya ketika jatuh cinta pada pacar saya dulu yang sekarang sudah menjadi istri saya. Dari pandangan mata saya dalam sebuah kelas katakesasi Sidhi di gereja. Wajah dan mata indah bola ping-pongnya membuat mata saya berhenti berkedip sejenak. Apalagi ketika saat itu saya ditugaskan sebagai ketua kelas katakesasi sidhi dan dia sebagai sekretarisnya. Maka terjadilah “affair” antara Ketua dan sekreataris pada saaat itu. Kami berangkat dan pulang katakesasi bersama,. Terkadang sehabis katakesasi, kami pergi “kencan” yakni mampir untuk cari makan malam bersama. Dari situlah tumbuh benih-benih cinta yang pada akhirnya membawa saya dan dia kepada kehidupan berumah tangga.
Mungkin masing-masing orang memiliki proses jatuh cinta yang berbeda dengan saya. Ada seorang teman yang jatuh cinta pada pasangannya diawali dengan rasa iba dan kasihan. Karena biasa menunjukkan perhatian dan kasih saying, akhirnya cinta bersemi. Namun ada pula yang mengawali proses jatuh cinta karena sebuah proses bisnis. Diawali dengan sebuah kerjasama dagang, namun karena asset yang semakin besar akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Aset tetap terjaga, relationship menjadi lebih berkualitas dari seorang partner bisnis menjadi sepasang suami istri.
Apakah cinta selalu membawa kebahagiaan bagi kita ? Maybe Yes…Maybe No. Tergantung bagaimana kita merawat cinta itu. Dan mengarahkan komitment kita bersama agar cinta yang sudah bersemi terus mekar dan harum semerbak. Tidak ada cinta yang terus mekar dan bertumbuh tanpa ada upaya yang serius dari sebuah pasangan. Cinta hanya bisa bersemi ketika masing-masing pasangan mau berkomitmen untuk mengendalikan egoisme pribadinya masing-masing dan menaruhnya didalam sebuah komitmen kebersamaan atas nama cinta. Selama egoisme tak terkendalikan, maka dapat dipastikan bahwa cinta itu hanyalah milih salah seorang saja, bukan milik bersama.
Nah, itu cinta kita kepada manusia yang menjadi pasangan hidup kita. Bagaimanakah cinta kita kepada Tuhan? Apakah anda pernah merasa jatuh cinta kepada Tuhan? Kalau anda pernah merasakan jatuh cinta kepada Tuhan, apakah rasanya juga sama seperti tahi kucing rasa coklat ? Apakah berjuta rasanya serta siang malam terbayang-bayang selalu? Kalau pertanyaan ini susah untuk dijawab, mungkin pertanyaan ini akan kita permudah.Pernahkah anda “berkencan” dengan Tuhan ?
Kencan dengan Tuhan tentu memiliki berbagai macam tafsir. Bisa melalui doa,pujian,persekutuan, pelayanan dan sebagainya. Namun bagi saya, inti berkencan dengan Tuhan adalah sebuah situasi dimana kita memiliki keakraban spiritualitas denganTuhan. Soal wujudnyata nya, masing-masing orang bisa berbeda-beda. Ada yang bekencan dengan Tuhan melalui gitar dan pujian memuliakan Tuhan. Ada yang berkencan dengan Tuhan dengan berdoa. Dan masih banyak lagi cara berkencan dengan Tuhan. Sekali lagi masing-masing orang berbeda cara. Mana yang lebih baik diantara berbagai cara tersebut ? Apa keuntungan berkencan dengan Tuhan ? Saya hanya bisa menjawab, bahwa yang tahu jawabannya adalah orang yang hidupnya selalu nampak damai dan sukacita walau harga BBM sebentar lagi naik. Orang yang selalu bisa tersenyum walau memiliki banyak persoalan kehidupan dunia. ORang yang selalu bisa membagi berkat kepada sesama dan menjadi saluran berkat. Karena mereka bisa mendapatkan semua itu karena intimnya mereka dengan Tuhan dan berkualitasnya kencan mereka dengan Tuhan.
Teman-teman,
Bagi anda yang hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada sesama manusia (terutama kepada pasangan kita). Namun belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta kepada Tuhan. Saya hanya bisa berkata, cobalah untuk memulai sebuah kencan dengan Tuhan. Rasanya benar-benar seperti permen nano-nano…manis,asem,asin, ramai rasanya. Kadang terasa manis ketika kita sedang menerima berkat Tuhan. Kadang terasa asem, bila doa kita tak terjawab. Kadang terasa asin bila jawaban Tuhan bukan seperti keinginan kita. Kalo sudah begitu situasinya mirip-mirip ketika kita jatuh cinta pada pasangan kita. Ada mesranya, jikalau pas menerima berkat Tuhan. Ada ngambeknya, bila Tuhan serasa tak mendengar doa kita. Ada marahnya bila apa yang diberikanNya tak sesuai dengan keinginan kita. Seru banget !
Yang pasti dan luar biasa adalah, apapun sikap kita kepada Tuhan. Cinta dan kasihNya kepada kita tetap dan abadi. Walau kita sering mendukakanNya, sering menduakanNya namun kasihNya tak pernah berkesudahan. CintaNya kepada kita bukan cinta biasa. Kalau sudah begitu, saya ingin sekali mengatakan kepada anda semua. Rugi besar bila anda tak pernah berkencan dan jatuh cinta kepada Tuhan. Jadi…selamat jatuh cinta kepadaNya
Namun, bila anda sudah mencoba dan merasakan indahnya jatuh cinta kepadaNya. Jangan Sungkan untuk share dengan saya… Supaya saya bisa mengatakan,”Aku makin cinta kepadaMu…Tuhan”
Surabaya, 21 Maret 2012
Inspired by pengirim renungan pagi “kencan dengan Tuhan”

Senin, Maret 19, 2012

Tombol Escape dan Tombol Power


Saya belajar komputer mulai ketika saya kelas 2 SMP. Waktu itu saya dibelikan orang tua saya satu unit computer bekas type XT. Belum seperti computer jaman sekarang tentunya. Kala itu di butuhkan sebuah disket besar untuk melakukan “booting” atau proses menyalakan komputer. Apalagi programnya, seingat saya saat itu yang tercanggih adalah WS (Wordstar) dan Lotus. Belum ada Microsoft office milik windows ataupun open office milik linuk. Memang, Komputer beserta perangkatnya berkembang pesat dari sejak awal di munculkan sampai terkini. Terutama sejak era informasi seperti sekarang ini. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi dan semakin waktu tentu semakin canggih.

Namun ada sesuatu hal yang tak pernah berubah. Kalaupun berubah tidak terlalu significant menurut saya, yakni “keyboard” computer. Dari susunan hurufnya, sampai bentuk keyboard selalu sama. Demikian juga dengan tombol-tombolnya, nyaris sama ! Yang tak berubah lainnya adalah fungsi tombol pada pada CPU nya yakni tombol power dan tombol restart. Tombol power berfungsi untuk mengaktifkan, sedangkan tombol restart untuk melakukan re-boot. Bahkan,akhir-akhir ini tombol power dan restart dijadikan satu tombol, khususnya untuk CPU terbaru. Anda yang biasa mengoperasikan komputer tentu tahu betul tentang ini.

Sejujurnya saya tertarik dengan dua tombol utama yakni tombol escape dan tombol power. Menurut fungsinya, Tombol escape digunakan untuk “kondisi darurat”. Bila computer ngadat, tombol ini ditekan untuk keluar dari kondisi ngadat atau yang biasa orang sebut “hang”. Sedangkan Tombol power di pencet untuk mengkatifkan komputer dan membuat komputer mampu melakukan segala sesuatu dengan begitu hebatnya.

Secara pribadi saya punya tombol escape. Apalagi ketika saya merasa sedang “hang”. Yakni sebuah kegiatan “memotret”. Entah mengapa saya begitu “keracunan dan kecanduan” untuk kegiatan yang satu ini. Ketika penat melanda, kamera terasa menjadi sebuah tombol escape yang sempurna buat saya. Apalagi ketika dengan kamera itu saya mendapatkan object foto yang menarik dan saya melakukan kegiatan olah digital untuk menyempurnakan tampilan foto. Saya betah berjam-jam untuk melakukan itu didepan komputer. Setelah itu semua selesai, saya bisa tidur nyenyak !

Teman/sahabat saya lain lagi gayanya. Dia masih “single” atau belum menikah. Sepengetahuan saya dia belum punya pacar. Namun sepengetahuan saya juga, saat ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Bahkan ini cinta pertamanya (sekali lagi kalo saya tidak salah). Nah, teman saya ini punya tombol power didalam kehidupannya. Tombol itu “terpencet” otomatis ketika dan setelah dia bertemu dengan sang pujaan hatinya. Biasanya itu terjadi ketika libur akhir pekan. Kalo dia sudah bertemu dengan gadis yang sedang dicintainya. Dia merasakan hidup yang penuh warna dan penuh semangat. Apapun akan mampu dia laksanakan, bahkan bersepeda dari luar Surabaya menuju kota Surabaya sekalipun. Asal dia sudah bertemu dengan sang pujaan hati maka terasa bahwa tombol power itu…terpencet...otomatis ! Pikiran segar, badanpun bugar.

Apapun namanya, dua tombol ini tentu merupakan tombol ajaib bagi saya dan teman saya. Beda nama dan beda fungsi. Tapi hasilnya satu yakni membangkitkan semangat kehidupan. Waktu memencetnya pun beda, tapi yang saya tahu pasti kalo kedua tombol ini tak terpencet, pasti serasa “kurang darah”. Terasa letih dan lesu dalam menjalani kehidupan…

Malam ini saya bahkan baru menyadari, bahwa sebenarnya Tuhan yang maha kuasa itu adalah sumber tombol escape maupun tombol power sekaligus. Dengan kuasaNya yang ajaib, Tuhan bahkan mengendalikan kedual tombol itu dengan begitu sempurnanya. Sayang, manusia ini sering lupa dengan hal ini. Atau kalau pun tak lupa, mungkin hanya menjadikan Tuhan sebagai tombol escape saja. Artinya disini adalah, Jikalau menghadapi keruwetan hidup, kita buru-buru memencetnya agar segera terbebas dari keruwetan. Tetapi jika sedang bahagia, maka kita lupa bahwa sesungguhnya yang memegang dan memiliki tombol power kita itu adalah DIA.

Teman-teman yang terkasih,

Pasti semua setuju, bahwa Tuhan kita yang sempurna dan baik itu tidaklah pantas bila hanya berperan sebagai tombol escape saja. Sebagai Sang Pencipta, Dia bahkan lebih pantas untuk menjadi tombol power bagi kita. Ketika kita dekat padaNya rasakan kekuatan Allah itu menjadi kekuatan kita. PowerNya menjadi power bagi kita. Bahkan serunya lagi, seperti tombol power dan tombol restart di komputer yang saat ini sudah jadi satu. Maka disaat kita memencet tombol power itu, maka sesungguhnya kita bukan hanya mendapatkan “power”nya saja tetapi juga mendapatkan “way out” nya. Bukan hanya dapat kekuatanNya tetapi juga mendapat “penghiburanNya”

Bahagianya kita menjadi milik Allah. Dia begitu mencintai dan mengasihi kita. KebaikanNya kita rasakan tak berkesudahan. Dan atas perkenanNya kita memiliki jaminan kehidupan yang abadi.

Hanya teman baik saya tadi sering iseng, Pernah dia bilang, Mas...sampeyan jangan keasyikan mencet tombol escape terus lho… Nanti tombol power nya “shut down” otomatis …

Saya langsung menjawab dalam hati, “ Oh tidaaaaak…!!!” Aku tak mau itu terjadi. Dan saya pun sekarang yakin. Setelah anda membaca catatan ini. Pasti dalam hati anda juga akan berkata seperti saya tadi….Hehehe

Rawatlah tombol power itu teman…

dan tetap miliki juga tombol escapemu.

Bijaklah dalam mengkombinasikan keduanya.

Surabaya, 18 Maret 2012

Inspired by pejantan tambun…